Alhamdulillah, dibalik kesulitan ada kemudahan!!!

August 8th, 2008 by deeszt

tgl 8 bln 8 th 08 hari yg bersejarah. satu lagi dari rangkaian titik-titik menjalani hidup berhasil dilalui. semoga titik2 itu trus sambung-menyambung membentuk suatu pola yang baik.

kesadaran

May 25th, 2008 by deeszt

coba-coba saja. silahkan didownload

“kesadaran”. moga2 berguna bagi semuanya.

Menyorong rembulan

May 20th, 2008 by deeszt

Gerhana rembulan hampir total, malam gelap gulita, matahari berada
pada suatu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang
memancar ke rembulan tidak sampai kepermukaan rembulan karena
ditutupi oleh bumi, sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya
matahari kepermukaan bumi. Matahari adalah lambang Tuhan, cahaya
matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan
oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para
nabi, para ulama, para cerdik, cendikia, para pujangga dan siapapun
saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk
mendaya gunakannya dibumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka
malam gelap gulita. Dan didalam kegelapan segala yang buruk terjadi.
Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas, orang
menyangka kepala adalah kaki, orang menyangka utara adalah selatan.
Orang bertabrakan satu sama lain, orang tidak sengaja menjegal satu
sama lain dan atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain.
Didalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk
melangkah, akan kemana melangkah dan bagaimana melangkah.

Ilir-ilir kita memang sudah ngelilir, kita sudah bangun, sudah
bangkit bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal
pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan
anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut namun ajaran-ajarannya
kita biarkan hidup subur didalam aliran-aliran darah dan jiwa kita.
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok
balik. Kita mencerca maling dengan penuh kebencian kenapa bukan kita
yang maling. Kita mencaci penguasa zhalim untuk bisa menggantikannya.
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni
melarangnya untuk insyaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan
anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan
dengan cara merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para
penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis yakni kita halangi
dirinya untuk memperbaiki diri. Siapakah selain setan, iblis dan
dajjal yang menolak khusnul khotimah manusia, yang memblokade pintu
surga,  yang menyorong mereka mendekat kepintu neraka.

Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas, sesudah
diperbudak kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan
kita susun barisan untuk menghancurkan. Yang kita bangkitkan bukan
pembaharuan kebersamaan melainkan asyiknya perpecahan, yang kita
bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang
kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah.
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka melainkan rencana-rencana
panjang untuk menyelengarakan perang saudara. Yang kita kembang
suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita
sendiri. Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta
melainkan memepersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang
kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita
akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari sehingga bumi kita
sendiri tidak akan mendapatkan cahaya atau kita berfungsi menjadi
rembulan, kita sorong diri kita bergeser kealam yang lebih tepat agar
kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai
Tuhan itu kembali ke bumi.

Emha
Ainun Nadjib

Pemuja cinta vs Pencela cinta

December 19th, 2007 by deeszt

Pemuja cinta berkata:

Siapa yang tidak mau
mencicipi manisnya cinta , tidak akan bisa menikmati kehidupan ini.
Kesempurnaan kenikmatan mengekor kepada kesempurnaan cinta. Orang
yang paling bisa  menikmati sesuatu ialah yang paling mencintai
sesuatu itu. Allah membuat para nabi dan rasul-Nya mencintai istri
dan kekasihnya.

Menurut golongan ini,
cinta itu bisa mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong
untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang
mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan
pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta itu
merupakan ujian bagi orang yang shalih. Cinta merupakan timbangan
akal dan rasa. Cinta merupakan ciptaan yang mulia, sebagaimana yang
dikatakan dalam syair,

Bukan karena dorongan
nafsu kubangkitkan cinta
Tapi kulihat cintu itu
adalah akhlak yang mulia

Menurut mereka, ruh-ruh
orang yang dimabuk cinta adalah titik-titik embun yang lembut. Tubuh
mereka ringan dan lemas. Pasangan mereka menjadi lamban untuk
diarahkan. Bisa tenang jika sudah bersanding dan mengikatkan tali
cinta. Ucapan mereka tertanam dipikiran, menggerakkan jiwa,
mengguncang ruh dan tidak sedikit para cerdik pandai yang
membicarakan keadaan mereka.

Sebagian orang berkata
“cinta bagi ruh sama dengan kedudukan makanan bagi badan. Jika
engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu, dan jika
engkau terlalu banyak menyantapnya tentu ia akan membinasakanmu”.

Sebagian yang lain
mengatakan “ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir
menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah
yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan
kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, merupakan
pintu pertama yang membelah pikiran dan kecerdikan, karenanya ada
tipu daya yang halus, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadiaan
menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan
kesenangan yang bersemayam didalam hati”.

Al-abbas bin Al-ahnaf
berkata dalam syairnya,

Tiada manusia yang tiada
memiliki cinta
Tiada kebaikan bagi
orang yang tiada cinta

Yang lain berkata,

Tiada keindahan dan
kenikmatan didunia
Jika engkau menyendiri
tanpa perasaan cinta.

Ali bin abdah berkata
“tak mungkin seseorang bisa menghindari cinta, kecuali orang yang
kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah”

Pencela cinta berkata:

Allah berfirman:

Ya Rabb kami,
janganlahEngkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb
kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb
kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri maafkan kami”. (al-baqarah: 286)

Beban dalam ayat diatas
ditafsiri dengan cinta. Yang dimaksud bukan pengkhususannya, tetapi
maksudnya adalah cinta yang tidak sanggup dipikul oleh manusia.
Menurut makhul, artinya dorongan birahi yang kuat.

Sabda rasulullah saw,

Tidak selayaknya
seseorang merendahkan dirinya sendiri”
(HR. ahmad)

Menurut imam Ahmad,
penafsirannya: tidak selayaknya seseorang menantang cobaan yang tidak
sanggup dia pikul. Hal ini sama dengan keadaan orang yang jatuh
cinta. Sebab dengan begitu dialah orang yang paling rendah dihadapan
orang yang dicintai, agar memperoleh ridhonya, karena  dasar cinta
adalah merendahkan diri dan tunduk kepada kekasih, sebagaiman
dikatakan seorang penyair,

Dulu kami melihatmu
terhormat dan mulia
Tiada heran jika menjadi
hina karena orang yang dicintai
Usah pungkiri kehinaan
mereka yang jatuh cinta
Rela merunduk karena
mengharap ridho kekasih tercinta

Yang lain berkata,

Permulaan cinta indah
menawan hati
Akhirnya kematian
laksana permainan
Ia bermula dari
pandangan dan canda
Menyala dihati laksana
bara api
Seperti api yang bermula
dari percikan
Jika membesar ia akan
membakar semua kayu

Penyair lain berkata,

Mataku mengalirkan
airmata darah
Setelah air mata itu
habis tercurah
Duka nestapa ada dibadan
yang kurus kering
Sebagian malam yang sepi
datang mengiring
Aku lalai beberapa waktu
telah lama berlalu
Waktu berganti dan
ingatan tetap menyatu

Sebagian yang lain
berkata,

Karena cinta dia menjadi
hamba
Padahal sebelumnya dia
adalah raja
Kegarangan istana tiada
lagi menyertai
Dia dipuncak gunung
menyendiri sendiri
Pipi tertempel ditanah
berdebu
Seakan bantal-bantal
sutra untuk bertumpu
Begitulah kehinaan
menimpa orang yang merdeka
Jika cinta menimpa dia
laksana hamba sahaya

Menurut golongan ini
berapa banyak cobaan cinta yang membenamkan kepala kedalam siksa
neraka, menuntun mereka kepada derita yang pedih dan kegelas mereka
dituangkan api yang mendidih? Berapa banyak cobaan cinta yang
mengeluarkan manusia dari medan ilmu dan agamanya, seperti keluarnya
selembar rambut dari tepung? Berapa banyak cobaan cinta yang
menghilangkan nikmat dan mendatangkan derita? Berapa banyak orang
yang turun dari tahta kehormatan hingga menjadi orang yang hina
karena cinta, dan berapa banyak orang yang tadinya berkedudukan
tinggi namun kemudian hanya memilki kedudukan yang rendah? Berapa
banyak aurat yang terbuka, derita yang muncul kemudian hari,
kegelisahan yang mendera pada akhirnya hanya ada penyesalan?

Keputusan Hukum Tentang
Dua Golongan Dan Menuntaskan Perbedaan Diantara Keduanya.

Dapat dikatakan, cinta
itu tidak bisa dipuja secara mutlak dan tidak bisa dicela secara
mutlak pula. Cinta dapat dipuja dan dicela menurut pertimbangan
kaitannya. Sebab kehendak tergantung kepada yang dikehendaki, cinta
tergantung kepada apa yang dicintai
. Selagi apa yang dicintai
termasuk sesuatu yang memang layak dicintai, atau sebagai sarana
untuk menghantarkan kepada apa yang layak dicintai, maka cintanya
yang berlebih-lebihan tidak akan dicela dan bahkan dipuji. Kebaikan
keadaan orang yang mencintai juga tergantung kepada kekuatan
cintanya.

Maka dari itu kebaikan
hamba yang paling besar ialah jika dia mengalihkan semua kekuatan
cintanya kepada Allah semata, sehingga dia mencintai Allah segenap
hati, ruh dan raganya. Dia menunggalkan kekasihnya dan menunggalkan
cintanya. Menunggalkan kekasih artinya tidak membilang-bilang apa
yang dicintainya. Dan menunggalkan cinta artinya tidak menyisakan
cinta didalam hati sehingga dia berani berkorban demi cintanya. Cinta
seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak
kenikmatan dan kesenangan hatinya. Hatinya tidak merasakan memiliki
kenikmatan kecuali menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling dia
cintai dari pada yang lain. Cintanya kepada selain Allah mengikuti
cintanya kepada Allah. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah,
sebagaimana dalam sebuah hadist,

“Tiga perkara, siapa
yang tiga perkara itu ada padanya, maka dia mendapatkan manisnya
iman, yaitu: siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada
selain keduanya. Siapa yang mencintai seseorang, dia tidak
mencintainya melainkan karena Allah. Siapa yang enggan kembali kepada
kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan kedalam
neraka.” (HR. bukhari, muslim, at-tirmidzy, dan an-nasa’y)

                 Ibnu Qayyim Al-jauziyah: Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu

islam2 sempalan!!!

November 5th, 2007 by deeszt

cukuplah dengan munculnya aliran2 beragama belakangan ini, menjadikan hujjah bagi kita bahwasanya secara fitrah manusia selalu ingin mencari kebenaran. namun ketahuilah wahai saudaraku ukuran kebenaran, ukuran kebaikan bukan lah menurut kita, menrut saya, menurut anda. kalaulah ukuran kebenaran itu menurut saya, lantas anda mengatakan kebenaran adalah menurut anda, dan yang lain mengatakan bahwa kebenaran adalah menurut mereka. alangkah relatifnya defenisi kebenaran itu. lantas kebenaran yang mana akan kita ikuti??? kebenaran haruslah berdasarkan dalil/hujjah yang datang dari Al-Qur’an dan As-sunnah. Al-qur’an yang didalamnya tidak diragukan lagi kebenarannya. berikut adalah artikel yg dikutip dari sebuah sumber, yg semoga dg artikel ini keimanan kita tetap kokoh pada yang haq, walaupun ditengah penyesatan umat.

IMAN KEPADA NABI MUHAMMAD
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin
Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
1/2

Muhammad
Rasulullah[1 Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdillah bin
‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushayy bin
Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik
bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan, dan ‘Adnan adalah salah
satu putera Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil -salam
terlimpah atas Nabi kita dan atas keduanya-.

Beliau adalah
penutup para Nabi dan Rasul, serta utusan Allah kepada seluruh
manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan Rasul
yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk,
makhluk yang paling utama dan paling mulia di hadapan Allah Ta’ala,
derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat kepada
Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa
kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi
alam semesta, sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Kami
mengutusmu melainkan untuk (men-jadi) rahmat bagi semesta alam.”
[Al-Anbiyaa': 107]

Allah menurunkan Kitab-Nya kepadanya,
memberikan amanah kepadanya atas agama Nya, dan menugaskannya untuk
menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindungi-nya dari kesalahan
dalam menyampaikan risalah ini, sebagai-mana firman-Nya.

“Dan
tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanya-lah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).” [An-Najm: 3 4]

Ahlus Sunnah beriman bahwa
Allah Ta’ala mendukung (menguatkan) Nabi-Nya  dengan
mukjizat-mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas.

Di
antara mukjizat-mukjizat tersebut dan yang terbesar adalah Al-Qur-an
yang dengannya Allah mengemukakan tantangan kepada ummat yang paling
fasih dan paling men-dalam (bahasanya) serta paling mampu bermanthiq
(ber-logika).

Mukjizat terbesar -setelah Al-Qur’an- yang
dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya adalah mukjizat Isra’ dan
Mi’raj, yaitu dibawanya Nabi Muhammad Shallallahu oleh Malaikat
Jibril pada satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis kemudian ke
langit sampai ke Sidratul Muntaha. Dan beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya dalam
keadaan sadar. Juga mukjizat-mukjizat lainnya.

Keyakinan Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah Tentang Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wa salam adalah

[1]. Keumuman Risalah Nabi
Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Bahwa Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam diutus Allah ke muka bumi
untuk segenap jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk dan
cahaya yang terang. Dalil tentang keumuman risalah beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam adalah firman Alla Subhanahu wa Ta’ala

"Dan
Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia,
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan ma-nusia tiada mengetahui.” [Saba’: 28]
[2]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Aku
dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang
pun dari Rasul-Rasul sebelum-ku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan
dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2)
dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk
tayammum-pent.), maka siapa saja dari ummatku yang mendapati waktu
shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang
bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4)
dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin
Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku
diutus untuk seluruh manusia.”[3]

Mereka (Ahlus Sunnah)
mengimani dan meyakini bahwasanya beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ahlus Sunnah menyaksikan dan
meyakini bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah
Rasul yang paling mulia dan peng-hulu seluruh makhluk.

Beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dua
sifat ini (hamba dan utusan) untuk menolak adanya sifat ghuluw
(melampaui batas) dan tafrith (melalaikan hak-hak beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam).

[2]. Ahlus Sunnah Meyakini
Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Aalaihi Wa Sallam Adalah Penutup Para
Nabi ‘Alaihimus Sallam

Setiap orang yang mendakwahkan
adanya kenabian sesudah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka
yang demikian itu adalah sesat dan kufur. Allah Azza wa Jalla
berfirman.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari
seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan
penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

[Al-Ahzaab: 40]

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan
akan adanya dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi, kemudian
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“…Dan
sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga
puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah
penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku
.”[4]

Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

“Aku memiliki lima
nama: aku Muhammad (yang terpuji), aku adalah Ahmad (yang banyak
memuji), aku adalah al-Maahi (penghapus) dimana melalui
perantaraan-ku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Haasyir
(pengumpul) yang mana manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku juga
mempunyai nama al-‘Aaqib (belakangan/penutup) -tidak ada lagi
Nabi yang datang sesudahku
-.”[5]

[3]. Ahlus
Sunnah Berkeyakinan Bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Tidak Mengetahui Masalah Yang Ghaib Semasa Hidupnya Kecuali Yang
Diajarkan Oleh Allah Azza wa Jalla, Apalagi Setelah Beliau Shalallahu
Alaihi Wa Sallam Wafat.

Allah Azza wa Jalla
berfirman.

“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu
bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah
diwahyukan kepadaku.’…” [Al-An’aam: 50][6]

Kalau
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui masalah
yang ghaib, maka apalagi orang lain. Karena yang mengetahui masalah
yang ghaib hanya Allah Azza wa Jalla semata.

Firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

“Katakanlah: ‘Tidaklah ada seorang
pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali
Allah.’ Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan
dibangkitkan.” [An-Naml: 65]

[4]. Wajibnya
Mencintai Dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Serta Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan)

Ahlus Sunnah
wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya mencintai dan mengagungkan
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan dan
pengagungan terhadap seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akan tetapi dalam mencintai dan mengagungkan beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam tidak boleh melebihi apa yang telah ditentukan
syari’at, karena bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam seluruh
perkara agama akan menyebabkan kebinasaan.

Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Tidaklah beriman
seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya melebihi
kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh
manusia.”[7]

Pertama-tama, wajib bagi setiap hamba mencintai
Allah dan ini merupakan bentuk ibadah yang paling agung. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang
beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
[Al-Baqarah:165]

Ahlus Sunnah mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam dan mengagungkannya sebagaimana para Sahabat
Radhiyallahu ‘anhum mencintai beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam
lebih dari kecintaan mereka kepada diri dan anak-anak mereka,
sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab
Radhiyallahu ‘anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah
bin Hisyam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami mengiringi Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar
bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ‘Umar berkata
kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah,
sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: ‘Tidak, demi yang
jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi
dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah
saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang
(engkau benar), wahai ‘Umar.’”[8]

Berdasarkan hadits di
atas, maka mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah
wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu
selain kecintaan kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah mengikuti sekaligus ke-harusan dalam
mencintai Allah. Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah cinta karena Allah. Ia bertambah dengan bertambah-nya
kecintaan kepada Allah dalam hati seorang mukmin, dan berkurang
dengan berkurangnya kecintaan kepada Allah.

Orang yang beriman
akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan Rasul-Nya yang
paling ia cintai.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada
pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1)
hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.
(2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena
Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam
api.”[9]

Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
mengharuskan adanya peng-hormatan, ketundukan dan keteladanan kepada
beliau serta mendahulukan sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam
atas segala ucapan makhluk, serta mengagungkan
Sunnah-Sunnahnya.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata: “Setiap kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya
dibolehkan dalam rangka mengikuti kecintaan dan pengagungan kepada
Allah. Seperti mencintai dan mengagungkan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ia adalah penyempurna kecintaan dan
penga-gungan kepada Rabb yang mengutusnya. Ummatnya men-cintai beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam karena Allah telah memuliakannya. Maka
kecintaan ini adalah karena Allah sebagai konsekuensi dalam mencintai
Allah.”[10]

Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
meletakkan kewibawaan dan kecintaan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi
wa salam, karena itu tidak ada seorang manusia pun yang lebih
dicintai dan disegani dalam hati para Sahabat kecuali Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa salam[11]

[Disalin dari buku Prinsip
Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264
Bogor 16001, Cetakan ke 2]
_________
Foote Note
[1].
Pembahasan ini diringkas dari kitab al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis
Salaafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 84-87) dan
‘Aqiidatut Tauhiid dengan beberapa tambahan dari kitab-kitab
lain.
[2]. Lihat juga QS. Al-Anbiyaa’: 107 dan al-Ahqaaf:
29-31.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 335) dan Muslim (no. 521), dari
Sahabat Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, lafazh
ini milik al-Bukhari.
[4]. HR. öAhmad (V/278), Abu Dawud (no.
4252), Ibnu Majah (no. 3952), dengan sanad yang shahih menurut syarat
Muslim, dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu ‘anhu. Ketahuilah bahwa di
antara dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi adalah Mirza
Ghulam Ahmad al-Qadiyani al-Hindi, yang muncul ketika kolonial
Inggris menjajah India. Pada awalnya ia mengaku sebagai al-Mahdi
al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), kemudian mengaku sebagai
Nabi ‘Isa Alaihis Sallam, dan terakhir ia mengaku sebagai Nabi dan
mendirikan aliran Ahmadiyah… Mereka (kaum Ahmadiyah) mempunyai
keyakinan-keyakinan bathil yang banyak sekali dan menyalahi keyakinan
ummat Islam. Mereka menafikan tentang dibangkitkannya jasad manusia
dari kubur (nanti pada hari Kiamat), mereka meyakini bahwa nikmat dan
siksa hanya dialami oleh ruh saja, mereka beranggapan bahwa siksaan
terhadap orang kafir terbatas, mengingkari adanya jin dan lain
sebagainya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (IV/252) oleh
Syaikh al-Albani.
Pendapat para ulama bahwa Mirza Ghulam Ahmad
(1839-1908 M) adalah kafir, juga aliran Ahmadiyah pun kafir, mereka
disebut sebagai MINORITAS NON MUSLIM!!!
Di antara
keyakinan-keyakinan sesat Ahmadiyah adalah:
[a]. Meyakini bahwa
Allah puasa, tidur, menulis, dapat bersalah dan lainnya. Mereka
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Ta’aalal-laahu ‘amma
yaquuluuna ‘uluwwan kabiiran.
[b]. Meyakini bahwa Nabi Muhammad
bukanlah Nabi terakhir, dan mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad
adalah Nabi terakhir dan paling utama.
[c]. Mereka memiliki kitab
suci tersendiri yang berbeda dengan Al-Qur-an ummat Islam, mereka
menamakannya Kitaabul Mubiin.
[d]. Menurut mereka, tidak ada jihad
dalam Islam, dan telah dihapus.
[e]. Setiap Muslim adalah kafir
-menurut mereka- sampai masuk aliran Ahmadiyah al-Qadiyani.
[f ].
Mereka menghalalkan khamr, narkoba, barang yang memabukkan, dan
lainnya.
Ahmadiyah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
Yahudi, Nashrani, dan aliran kebathinan. (Lihat al-Mausuu’ah
al-Muyassarah fil Adyaan wal Madzaahib wal Ahzaabil Mu’ashshirah
I/419-423, cet. WAMY, th. 1418 H.)
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 3532),
Muslim (no. 2354) dan at-Tirmidzi (no. 2840), dari Sahabat Jubair bin
Muth’im Radhiyallahu ‘anhu. Penjelasan dalam tanda kurung adalah
penjelasan dari Imam az-Zuhri yang terdapat dalam riwayat Muslim dan
at-Tirmidzi. Lihat Fat-hul Baari (VI/557) cet. Darul Fikr.
[6].
Lihat juga QS. Al-A’raaf: 188 dan Jin: 26-27.
[7]. HR.
Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275) dan an-Nasa-i
(VIII/114-115), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[8].
HR. Al-Bukhari (no. 6632), dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam
z.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi
(no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari
hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[10]. Jalaa’ul Afhaam
fii Fadhlish Shalaati was Salaam ‘alaa Muhammad Khairil Anaam (hal.
297-298), tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.
[11]. Aqiidatut
Tauhiid (hal. 150), oleh Dr. Shalih al-Fauzan

Sumber
:
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1950&bagian=0

Hakekat Kemerdekaan Dan Hakekat keterbudakan

August 17th, 2007 by deeszt

 

Defenisi kemerdekan
setiap orang sangat subjektif sifatnya. Mungkin bagi orang miskin
makna kemerdekaan adalah tatkala dirinya bisa lepas dari kemiskinan,
bagi seorang pengangguran makna kemerdekaan adalah tatkala dirinya
bisa memperoleh pekerjaan, seorang napi, makna kemerdekaan baginya
adalah tatkala ia bisa keluar dari  penjara, lantas timbul
pernyataan, apa sebenarnya defenisi kemerdekaan secara objektif, yang
bisa diterima oleh setiap orang?

Seorang ulama salaf yakni
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang hidup pada abad ke tujuh hijriah
mengatakan:

“keterbudakan dan
penghambaan pada hakekatnya adalah keterbudakan dan penghambaan hati,
tatkala hati menjadikan diri seseorang sebagai budak dan sahaya, maka
ia adalah budak hatinya”

Oleh sebab itu, ada yang
mengatakan:

Hamba itu menjadi bebas
ketika ia qana’ah

Dan orang yang bebas akan
menjadi budak ketika ia tamak

Seorang penyair berkata:

Kutaati ambisi-ambisiku,
akhirnya ia memperbudakku

Seandainya saja aku
qana’ah, tentu aku merdeka

Diriwayatkan dari umar
bin khatab, bahwa ia berkata :

“ketamakan adalah
kefakiran, dan tidak banyak berharap adalah kecukupan, dan sungguh
seorang dari kalian apabila tidak menaruh harap kepada sesuatu ia
tidak akan merasa butuh kepadanya.”

Dalam shahih bukhari
diesbutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“celakalah hamba
dirham, celakalah hamba dinar, calakalah hamba qathifah, celakalah
hamba pakaian. Sungguh ia celaka dan sakit apabila ia tertusuk duri
maka tidak bisa dicabut, jika diberi merasa ridha dan bila tidak
diberi marah”

Beliau menamakannya
sebagai budak dirham, budak dinar, budak
qathifah dan budak pakaian. Beliau menyebutkan “ia celaka
dan sakit, jika tertusuk duri maka tidak bisa dicabut
”, ini
adalah kondisi orang yang ditimpa keburukan kemudian tidak bisa
keluar dari sana dan tidak berhasil keluar karena ia celaka dan sakit
ia tidak memperoleh yang dicari dan juga tidak terlepas dari hal yang
tidak disukai, ini adalah penghambaan harta, dan Rasulullah mensifati orang
seperti ini “jika diberi merasa senang dan jika tidak diberi
marah
”..

Semoga kita tidak menjadi
budak dari hati kita, yang dengannya ini kita sesekali tidak akan
pernah merasa merdeka..

 

Dibalik Murah Tarif Operator Selular?

July 13th, 2007 by deeszt

Maraknya iklan2 operator
selular saat ini tentu sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat
yang notabene merupakan customer operator selular. berbagai
keunggulan ditawarkan seperti tariff murah /detik, satu jam satu
tariff, bonus bicara, bonus sms, dan sebagainya. Tiap-tiap operator
berlomba-lomba menawarkan tariff murah yang disertai dengan bonus
atau hadiah. Ketatnya persaingan antar operator ini membuat mereka
harus sebisa mungkin menawarkan “rayuan” kepada customer dengan
kemasan iklan yang menarik, yang kadang inti dari iklan yang
ditawarkan agak “disamarkan” sseperti keterangan ketentuan dan
persyaratan yang berlaku. Nah….berikut ini adalah syarat dan
ketentuan yang berlaku pada masing2 operator selular, yang dikutip
dari majalah “Mobile Guide”. Semoga blog ini sedikit berguna bagi
kita dalam hal menetukan operator mana yang akan dipilih.

Simpati:
Tariff gratis telepon dan
sms kesesama pelanggan telkomsel antara jam 22.00-07.00, berlaku
sampai 30 september 2007. tariff sms Rp 49/sms pada pukul 23.00-07.00
berlaku hingga 30 september 2007

Kartu AS:
Bonus 100 sms gratis
berlaku sampai 31 agustus 2007. bonus 100 sms gratis yang diperoleh
hanya dapat digunakan selama periode bulan berjalan (1-30 jun 2007,
1-31juli2007, dan 1-31 agustus 2007). Dan tidak dapat digunakan pada
bulan berikutnya. Tariff sms berlaku sampai 30 september 2007

Mentari:
Ke sesama selular indosat
(mentari,IM3 dan matrix) Rp 50/30 detik. Dengan mendaftarkan terlebih
dahulu maksimum 4 nomor tujuan, berlaku hingga 31 agustus 2007.

Bebas:
Tariff ke sesama
pelanggan XL Rp 45/sms berlaku hingga 14 Oktober 2007.

Jempol:
Tariff 45/sms ke sesama
XL(jempol,bebas,Xplor)jam 22.00-06.00 berlaku hingga 14 oktober 2007

Three:
Tariff sms berlaku hingga
31 agustus 2007

Starone:
Tariff berlaku sampai 30
juni 2007

Fren:
Tariff ke sesama fren Rp5
/30 detik dan keselular lain/PSTN/fixed wireless lain Rp10/detik
berlaku sampai 30 juni 2007. dan berlaku pada menit ke-6 dan
seterusnya. Untuk selular lain menit ke-1 sampai ke-5tarifnya Rp20
/detik.

jual-beli jaman dulu

May 5th, 2007 by deeszt

Sabtu, 5 mei 07, 18:45

Mungkin banyak diantara
kita bertanya-tanya, bagaimana sih system jual beli pada masa
jahiliyah dulu? Apa pakai uang ? atau pakai system barter? Lantas
kalau pake uang gimana ukurannya?

“Dari berbagai sumber
sejarah diketahui bahwa mata uang pada masa jahiliyah dan pada masa
permulaan islam, terdiri dari dua macam : dinar dan dirham. Mata uang
dirham terbuat dari perak, terdiri dari tiga jenis: bughliyah,
jaraqiyah, dan thabariyah. Bhughliyah beratnya 4,66 gram, jaraqiyah
beratnya 3,40 gram, dan thabariyah beratnya 2,83 gram. Penduduk
makkah berbisnis dengan menggunakan beratnya, bukan pada jumlahnya.
Kesimpulan dari berbagai pendapat ulama, berat dirham yang dianggap
sesuai dengan syariat adalah 55 biji gandum yang sedang. Sepuluh
dirham sama dengan 7 mitsqal emas. Satu mitsqal emas beratnya sama
dengan 72 biji gandum. Penetapan ini berdasarkan penuturan ibnu
khaldun. Uang-uang perak banyak beredar dan digunakandi arab pada
masa kenabian. Oleh karena itulah imam ‘atha menyatakan
“sesungguhnya pada masa itu yang ada adalah perak bukan emas.”
(mushannaf ibnu abi syaibah,III/222).

Sedangkan mata uang dinar
terbuat dari emas. Pada masa jahiliyah dan pada permulaan islam, syam
dan hijaz menggunakan mata uang dinaryang seluruhnya adalah mata uang
romawi. Mata uang ini dibuat di negeri romawi, berukiran gambar raja,
bertuliskan huruf romawi. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr
dalam kitab At-Tahmid: “Kata dinar adalah arabisasi dari kata
denarius. Dinar adalah mata uang romawi kuno, dan masih berlaku
disebagian Negara eropa. Dalam injil disebutkan nama dinar
berkali-kali. Dinar ditimbang dalam satuan mistqal. Satu mistqal sama
dengan 72 biji gandum yang sedang. Tidak  ada perubahan pada masa
jahiliyah dan pada masa permulaan islam.” Dalam Ensiklopedi islam
disebutkan bahwa dinar Bizantium beratnya 4,55 gram (lihat arikel
“Dinar” IX:27). Perbandingan antara dirham dengan dinar adalah
7:10. jadi berat satu dirham sama dengan 7/10 mistqal. Beratnya
pernah diturunkan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan sesudah
perbaikan-perbaikan yang dilakukan menjadi 4,25 gram. Mengenai
perbandingan harga atau nilai tukar, telah ditetapkan dalam
kitab-kitab sunnah dan Mazhab-mazhab ahli fiqih.

Secara histories
diketahui bahwa satu dinar pada masa itu setara dengan 10 dirham.
Dalam sunan abi dawud, terdapat riwayat dari Amru Bin Syuaib, dari
ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan: “Harga kuda pada masa
Rasulullah saw adalah 800 dinar atau 8000 dirham. Seperti itu pula
yang berlaku pada masa sahabat dan orang-orang setelah mereka, sampai
adanya kesepakatan tentang nilai tukarnya.”

Petunjuk yang lebih jelas
tentang dinar dan dirham, tentang kadar wajib untuk dizakati,
terdapat dalam haadist-hadist terkenal dan pendapat-pendapat jumhur
ulama dari kalangan ahli fiqih. Disebutkan bahwa nishab (batas
minimal harus berzakat) emas adalah 20 dinar. Dengan demikian dapat
dipastikan bahwa satu dinar pada masa jahiliyah dan pada masa
permulaan islam, sama dengan 10 dirham. Imam Malik menyataklan dalam
Al-Muwatha’:

“Sunnah yang tidak
diperdebatkan menurut kami, bahwa zakat wajib pada harta senilai 20
dinar, sebagaimana juga diwajibkan pada nilai 200 dirham.”

Untuk lebih terperinci
silahkan baca dalam kitab-kitab: Bulughul Arbi fi Ma’rifati Ahwal
al-‘Arab karya Al-Alusi, At-Taratib Al-idariyyah karya Abdul Hayyi
al-Kattani, fiqih az-Zakah karya yusuf Al-Qaradhawi, Tafsir al-Majidi
karya al-Majidi, dan sumber-sumber lainnya tentang fiqih zakat.”

Cinta dan Waktu

April 7th, 2007 by deeszt

Alkisah disuatu pulau kecil tinggallah benda-benda abstrak, ada cinta, kesedihan, kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau berusaha cepat-cepat menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri ditepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air terus naik membasahi kaki cinta.

Tak lama cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. “kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak cinta. “aduh! Maaf cinta!” Kata kekayaan “perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”

Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “kegembiraan, tolong aku!” teriak cinta. Namun kegembiraan terlalu senang karena ia menemukan perahu, sehingga ia tak mendengar teriakan cinta.

Air makin tinggi membasahi cinta sampai kepinggang dan cinta semakin panik. Tak lama lewatlah kecantikan. “kecantikan! Bawalah aku bersamamu!” teriak cinta. Wah cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut, nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini” sahut kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah kesedihan. “oh..kesedihan bawalah aku bersamamu” kata cinta. “maaf cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itu tiba-tiba terdengar suara, “cinta! Mari cepat naik keperahuku” cinta menoleh kearah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat cint nik keperahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat orang tua itu menurunkan cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya. Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk dipulau itu, “siapa sebenarnya orang tua itu?” Tanya cinta. “oh…orang tua tadi? Dia adalah waktu” jawab orang itu. “tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya, bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan menolongku” Tanya cinta heran. “sebab” kata orang itu, “hanya waktulah yan tahu berapa nilai sesungguhnya dari cinta itu…”

Zodiak????

March 27th, 2007 by deeszt

Senin 26 maret 2007, 18:40 WIB

Zodiak merupakan salah satu
bentuk sihir ramalan, didalamnnya berisi berita-berita palsu seperti
keuangan(rezeki), jodoh, dsb…karena sihir menurut bahasa merupakan sesuatu yang
yang halus atau tersembunyi. Padahal perkara rezeki maupun jodoh adalah perkara
ghaib yang tidak ada satu orang pun mengetahuinya. Bahkan…Rasulullah pun tidak
mengetahui perkara ghaib.

Firman Allah dalam surat AL -An’am
:50 yang artinya:
“katakanlah:’Aku tidak mengatakan padamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib
dan tidak (pula) aku mengatakan padamu bahwa aku
seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’
Katakanlah: ‘apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ maka
apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

Juga dalam surat Al-A’raaf:188 yang artinya:
“katakanlah:’aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan
tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya
aku mengetahui yang ghaib tentulah aku melakukan kebajikan
sebanyak-banyaknyadan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain
hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.”

Dalam surat An-Naml:65 firman Allah yang artinya:
“katakanlah:’tidak seorangpun dilangit dan dibumiyang mengetahui
perkara ghaib kecuali Allah,’ dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan
dibangkitkan.”

Bahaya sihir:

“Barangsiapa yang mendatangi orang pintar/tukang ramal atau dukun, lalu
ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia sungguh telah kafir dengan apa
yang diturunkan kepada nabi Muhammad” (HR Ahmad)

Firman Allah dalam surat Al-Hajj:31 yang
artinya
“Dengan patuh, tunduk kepada Allah, tiada mempersekutukan-Nya.
Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik) seolah-olah dia terjun dari langit,
lau disambar burung atau diterbangkan angin ketempat yang amat jauh.”

Mungkin ini sedikit tentang
bahaya mempercayai zodiak dari sekian banyak dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan
hadist. Sungguh kalau dulu orang yang mendatangi dukun, sekarang ini malah
lebih dahsyat lagi, dukun-dukun yang mendatangi kita melalui majalah, koran,
televisi dsb. Kalau kita tidak mengetahui apa itu tauhid sulit rasanya bisa
terhindar dari syirik.