Archive for January, 2007

Someone’s Watching Over Me

Sunday, January 21st, 2007

Ku tersadar hari ini…
Aku tersadar dan berlari menjauh…
Tetapi ada sesuatu yang menarikku kembali…
Suara yang mengatakan alasan yang kulupakan….
Yang kutahu adalah bahwa kau tak disini untuk berkata…
Apa yang biasanya selalu kau katakan….
Tetapi semua itu tertulis dilangit malam ini…

Maka aku tak akan menyerah….
Aku tak akan patah semangat….
hidup berubah lebih cepat dari yang kita perkirakan….
Dan aku akan menjadi lebih kuat….
Sekalipun semuanya tak sesuai rencana….
Saat aku berdiri dalam kegelapan,
Aku akan senantiasa percaya…
Ada yang menjagaku…..

Sepertinya aku melihat seberkas cahaya….
Dan cahaya itu menyinari jalan hidupku…
Selalu setia menyinari hidupku…
Kini aku tak akan takut lagi….
Untuk mengikuti kemanapun cahaya itu membawa pergi….
Aku yakin masa lalu telah berlalu……
Dan masa kini adalah milikku….
Untuk mewujudkan semua impianku….

Tak jadi soal apapun kata orang….
Tak jadi soal betapapun lamanya….
Percayalah pada dirimu sendiri, dan kau akan terbang tinggi….
Yang terpenting adalah ketulusan hatimu….
Jujurlah pada dirimu sendiri, dan ikutilah kata hatimu….
 
Hillary Duff

Laron.

Sunday, January 7th, 2007

Bismillahhirrahmanirrahim.
Ada pemandangan menarik yang dapat disimak dari serangga yang bernama laron. Sebuah perilaku aneh terjadi ketika laron menemukan cahaya. Secara masal ribuan laron berbondong-bondong terbang menuju lampu panas. Mereka merebut menabraknya, dan dak….laron-laron itupun mati bergiliran, sulit mencari penjelasan kenapa laron senekad itu. Dan itu terus berulang dari generasi ke generasi, tanpa sediktipun mengambil pengalaman dari generasi sebelumnya. Padahal naluri mahluk hidup selalu menginginkan kehidupan bertahan selamanya. “apa laron tidak suka kehidupan?” mustahil….justru pelajaran laron bisa berharga buat manusia. Sepertinya Allahua’lam. Allah mengajak manusia untuk berfikir lewat perilaku laron. Jangan seperti laron karena itu bisa membahayakan. Serangkaian perilaku itu antara lain, laron salah menafsirkan dari dunia gelap kedunia terang, suasana gelap dari rongga-rongga kayu yang selama ini mengungkung, menimbulkan uforia dahsyat tentang terang. Terang menjadi sangat-sangat menarik, tanpa mengkaji sedikitpun tentang terang. Mereka terus berkerumun ditengah terang yang kebetulan mereka temukan. Yang dengan terang itu kemudian mereka mati. Sepertinya, laron juga kurang kritis tentang nilai mayoritas. Kalau banyak yang menuju huruf A, maka A menjadi benar, dan menjadi pilihan terbaik. Padahal tidak semua kebanyakan itu benar dan sebaliknya tidak semua yang sedikit itu salah. Nilai benar dan salah, baik dan buruk, tidak berbanding lurus dengan banyak dan sedikitnya. Dan terakhir, laron kurang membuka mata kalau aktifitas hidup tidak terkungkung pada dua garis besar gelap dan terang, hitam dan putih, karena Allah melengkapi hidup ini dengan keindahan seribu satu warna. Tapi, jadikan putih tetap sebagai dasar semua warna. Dan memang kenyataannya jika semua warna itu jika bergabung akan menghasilkan putih.

Anak elang.

Sunday, January 7th, 2007

Tersebutlah kisah seekor anak elang yang belum bisa terbang. Ia hanya bisa menatap kehidupan bawah dari atas tempat ia tinggal. Satu hal yang membingungkan sianak elang semua gerakan itu tampak begitu lambat, bagaikan kombinasi titik yang bergerak lambat. “Kenapa sih…mereka tampak begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan. Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan dibawah bukit itu dengan mudah. “tentu saja kena, mereka begitu lamban” gerutunya penuh yakin. “kamu tidak turun memangsa nak” kata salah satu elang dewasa didekatnya. “aku belum mahir terbang” jawab sianak elang seperti tak peduli. Ia masih disibukkan dengan berbagai keheranan, “mengapa hewan-hewan dibawah tampak begitu lambat ya?” tanyanya dalam hati. Disuatu hari yang cerah sianak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai meluncurkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari disekitar sarang. “aku yakin bisa” ucapnya sambil menatap kebawah bongkahan batu-batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus menambah tantangan tersendiri buat sianak elang, dan ia pun mulai terbang. Diluar dugaan, tiupan angin besar tiba-tiba bertiup dari arah belakang. Karena belum pengalaman sianak elangpun terpelanting, ia menabrak salah satu dahan pinus. Bruuuk….tubuh sianak elangpun terperosok di semak-belukar. Salah satu sayapnya terluka. Baru kali itu sianak elang menginjakan kakinya didataran rendah, dan baru kali itu pula ia menyaksikan sendiri seperti apa gerakan hewan-hewan bawah dari arah dekat. “akh…selama ini aku salah, ternyata hewan-hewan itu bergerak begitu cepat. Cepat sekali” ucapnya penuh kekaguman. Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan, antara dunia atas dengan dunia bawah. Antara mereka yang biasa menatap gerak kehidupan dari tempat tinggi dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Dua-duanya memilki kesimpulan yang sama yaitu “gerakan mereka begitu lambat”. Persoalannya mungkin sederhana, yaitu keasyikan berada di tempat-tempat tertentu atas atau bawah, menjadikan pandangan begitu terbatas. Jarak jika terus dalam jauh dan keasyikan jika terus dalam dunianya sendiri akan menyimpulkan kesimpulan yang seperti kesenjangan ini. Semoga kita tidak seperti yang dialami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas.

Bendera.

Sunday, January 7th, 2007

Jum’at, 5 jan 2007, 11:00 Wib.

Disebuah desa tampak murid-murid madrasah sedang berbaris membentuk regu-regu barisan. Tiap regu memegang satu bendera yang terikat pada batang bambu berukuran satu meter. Rupanya mereka sedang mengikuti lomba gerak jalan keliling desa. Sebelum berangkat, seorang guru memberikan arahan, “anak-anakku perhatikanlah bendera kalian, jadikanlah ia sebagai dirimu sendiri” ujar sang guru singkat. Dan berangkatlah anak-anak itu, mereka bergerak begitu rapi serta tetap mengikuti arah bendera dibarisan depan. Jarak tempuh itu tergolong jauh untuk ukuran anak kota. Mereka melewati kampung-kampung, jalan raya antarkota dan berputar balik menuju tempat semula. Setelah dua jam berjalan barisan tidak lagi seperti ketika berangkat, ada yang akhirnya berbentuk segitiga, lingkaran, bahkan tidak berbentuk yang jelas alias kocar-kacir. Hanya satu yang tetap seperti semula yaitu bendera. Mungkin sebagian anak-anak menganggap kalau nasihat sang guru sebagai kata kunci “yang penting bendera”. Setelah semua regu tiba digaris finish, pemenang lombapun diumumkan,”pemenangnya regu padi” ucap sang guru disambut tepuk tangan. Beberapa murid mengangkat tangan “maaf pak, barisan regu padi memang rapi, tapi mereka beberapa kali tidak mengangkat bendera. Sementara kami terus mengangkat bendera. Bukankah bapak mengatakan yang penting bendera?” suara protes dari seorang murid. “Anakku….” ujar sang guru begitu wibawa, “kamu salah paham soal bendera, bendera bukan sekedar selembar kain yang terikat ditiang bambu. Bendera itu adalah citra, kamu sekalian adalah bendera yang berjalan” jelas sang guru begitu gamblang. Semua murid-muridpun terdiam. Ketika seseorang terikat dengan sesuatu diluar dirinya, bisa jadi agama, organisasi, korp, bisa jadi bendera bagi ikatannya. Baik buruk bendera sangat menentukan citra yang ia bawa. Seperti itulah musuh-musuh islam untuk menjelekkan islam yang sebenarnya bersih dan indah. Cukup dengan menyorot keterbelakangan umat islam, konflik yang tidak pernah habis, dan terakhir teroris. Islam yang indahpun tercitrakan buruk, islam menjadi ter-bendera-kan umatnya. Kita adalah bendera yang berjalan, yang semakin tinggi tiang bendera kian banyak yang mencitrakan kita. Jadi…bukan agama, organisasi, atau korp-nya yang buruk. Bendera-bendera itulah yang sangat mencitrakan, apakah sesuatu yang mengikatnya itu menjadi baik atau sebaliknya?.

Apakah Allah ada?

Tuesday, January 2nd, 2007

Jawabnya: ADA, apa dalilnya?
Dalilnya;
1. dalil aqli(akal).
Dalil aqli dapat kita katakan sebagai berikut:
“Coba kita lihat alam semesta ini, yang ada dihadapan kita, yang kita saksikan. Dengan system yang sangat rapi dan teratur tidak akan mungkin bertabrakan dan saling berbenturan, tidak akan jatuh dan tidak akan lepas. System yang sangat rapi dan teratur, matahari tidak akan dapat bertemu dan bertubrukan dengan bulan, malam tidak akan mendahului siang. Mungkinkah alam yang sangat rapi sistemnya ini ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya, mengaturnya dan menjalankannya?” Ini secara akal tidak mungkin. Ada suatu kisah yang menarik, yang diriwayatkan oleh imam Abu Hanifah, Beliau adalah orang yang sangat terkenal pintar, tajam otaknya. Datanglah orang-orang sekuler padanya. Orang-orang sekuler ini berkata kepadanya, “coba buktikan bagi kami bahwa Allah itu ada?”, sang imam menjawab ”beri aku waktu untuk berfikir!!” tidak berapa lama kemudian sang imam berkata kepada mereka “aku sedang memikirkan sebuah kapal yang besar berlabuh dipelabuhan dujla. Kapal itu membawa barang bawaan yang sangat banyak. Lalu barang-barang bawaan itu turun tanpa ada yang menurunkannya, lalu kapal itu berangkat pergi tanpa ada yang menakhodainya” orang-orang sekuler bertanya “bagaimana mungkin hal itu terjadi? Itu tidak dapat dibenarkan oleh akal kami” maka sang imam mengatakan kepada mereka “jika kalian tidak bisa membenarkan hal itu, maka bagaimana kalian dapat membenarkan matahari, bulan, bintang, langit, bumi yang berjalan demikian teratur seperti ini, bukankah ini menunjukan bahwa ada yang mengaturnya? Ada yang menjalankannya? Dan ada yang menciptakannya?” maka yakinlah orang-orang sekuler tadi bahwa alam ini ada yang menciptakannya. Allah telah mengisyaratkan dalil aqli ini dalam firman-Nya pada surat thuur ayat 35, yang artinya “apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakannya?” atau mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”.

2. dalil hissi.
Contohnya adalah doa kita yang dikabulkan ketika kita berdoa. Ketika kita berdoa “ya Allah” lalu Allah mengabulkan doanya, menyingkirkan musibah yang menimpanya, memberikan permintaan yang dimohonkannya. Ini menunjukan bahwa Allah itu ada, mendengarkan doanya dan mengabulkannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 76 yang artinya “dan nuh, ketika dia berdoa sebelumnya dan Kami mengabulkan doanya”. Ketika kita berdoa kepada Allah kita yakin secara hissi bahwa doa kita akan ada yang mengabulkannya. Seandainya pencipta tidak ada maka tidak akan ada orang yang memohon dan berdoa kepada pencipta. Ia yakin ketika berdoa ada dzat yang kuasa untuk mengabulkan doanya.

3. dalil fitri (fitrah).
Secara fitrah manusia itu apabila tertimpa musibah, kesempitan, mudharat maka secara otomatis lisannya berucap “Ya Allah” atau sering kita dengar “Oh.. my God”. Jadi secara otomatis/fitrah dia akan mengatakan hal itu. Meskipun terkadang sebenarnya dia tidak meyakini adanya Tuhan. Allah telah mengisyaratkan hal ini didalam Al-Qur’an surat Al-Ankabuut ayat61, yang artinya “Bila kamu tanyakan kepada mereka ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi, yang menundukan matahari dan bulan?’ mereka mesti mmenjawab ‘Allah’, mengapa pula mereka berpaling dari-Nya?.”

4. dalil syar’i
dalil syar’I sangat banyak sekali didalam Al-Qur’an, misalnya firman Allah dalamsurat Al-Fatihah yang artinya “segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam” juga masih banyak dalam surat-surat yang lainnya. Juga dalam surat Ghaafir ayat 67, Allah berfirman yang artinya ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air mani, lalu dari segumpal darah, akhirnya Tuhan melahirkan kamu sebagai bayi, Ia biarkan kamu tumbuh mencapai usia dewasa, lalu menjadi tua. Ada diantaramu yang mati sebelum itu agar kamu sampai waktu yang ditentukan, dan hendaknya kamu dapat berpikir”.