islam2 sempalan!!!

cukuplah dengan munculnya aliran2 beragama belakangan ini, menjadikan hujjah bagi kita bahwasanya secara fitrah manusia selalu ingin mencari kebenaran. namun ketahuilah wahai saudaraku ukuran kebenaran, ukuran kebaikan bukan lah menurut kita, menrut saya, menurut anda. kalaulah ukuran kebenaran itu menurut saya, lantas anda mengatakan kebenaran adalah menurut anda, dan yang lain mengatakan bahwa kebenaran adalah menurut mereka. alangkah relatifnya defenisi kebenaran itu. lantas kebenaran yang mana akan kita ikuti??? kebenaran haruslah berdasarkan dalil/hujjah yang datang dari Al-Qur’an dan As-sunnah. Al-qur’an yang didalamnya tidak diragukan lagi kebenarannya. berikut adalah artikel yg dikutip dari sebuah sumber, yg semoga dg artikel ini keimanan kita tetap kokoh pada yang haq, walaupun ditengah penyesatan umat.

IMAN KEPADA NABI MUHAMMAD
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin
Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
1/2

Muhammad
Rasulullah[1 Beliau adalah Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdillah bin
‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushayy bin
Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik
bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan, dan ‘Adnan adalah salah
satu putera Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil -salam
terlimpah atas Nabi kita dan atas keduanya-.

Beliau adalah
penutup para Nabi dan Rasul, serta utusan Allah kepada seluruh
manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan Rasul
yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk,
makhluk yang paling utama dan paling mulia di hadapan Allah Ta’ala,
derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat kepada
Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa
kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi
alam semesta, sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Kami
mengutusmu melainkan untuk (men-jadi) rahmat bagi semesta alam.”
[Al-Anbiyaa': 107]

Allah menurunkan Kitab-Nya kepadanya,
memberikan amanah kepadanya atas agama Nya, dan menugaskannya untuk
menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindungi-nya dari kesalahan
dalam menyampaikan risalah ini, sebagai-mana firman-Nya.

“Dan
tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur-an) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanya-lah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya).” [An-Najm: 3 4]

Ahlus Sunnah beriman bahwa
Allah Ta’ala mendukung (menguatkan) Nabi-Nya  dengan
mukjizat-mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas.

Di
antara mukjizat-mukjizat tersebut dan yang terbesar adalah Al-Qur-an
yang dengannya Allah mengemukakan tantangan kepada ummat yang paling
fasih dan paling men-dalam (bahasanya) serta paling mampu bermanthiq
(ber-logika).

Mukjizat terbesar -setelah Al-Qur’an- yang
dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya adalah mukjizat Isra’ dan
Mi’raj, yaitu dibawanya Nabi Muhammad Shallallahu oleh Malaikat
Jibril pada satu malam dari Makkah ke Baitul Maqdis kemudian ke
langit sampai ke Sidratul Muntaha. Dan beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasadnya dalam
keadaan sadar. Juga mukjizat-mukjizat lainnya.

Keyakinan Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah Tentang Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wa salam adalah

[1]. Keumuman Risalah Nabi
Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam.

Bahwa Nabi
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam diutus Allah ke muka bumi
untuk segenap jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk dan
cahaya yang terang. Dalil tentang keumuman risalah beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam adalah firman Alla Subhanahu wa Ta’ala

"Dan
Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia,
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan ma-nusia tiada mengetahui.” [Saba’: 28]
[2]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Aku
dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang
pun dari Rasul-Rasul sebelum-ku, yaitu (1) aku diberikan pertolongan
dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2)
dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk
tayammum-pent.), maka siapa saja dari ummatku yang mendapati waktu
shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang
bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4)
dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin
Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku
diutus untuk seluruh manusia.”[3]

Mereka (Ahlus Sunnah)
mengimani dan meyakini bahwasanya beliau Shalallahu ‘alaihi wa
salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ahlus Sunnah menyaksikan dan
meyakini bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah
Rasul yang paling mulia dan peng-hulu seluruh makhluk.

Beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dua
sifat ini (hamba dan utusan) untuk menolak adanya sifat ghuluw
(melampaui batas) dan tafrith (melalaikan hak-hak beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam).

[2]. Ahlus Sunnah Meyakini
Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Aalaihi Wa Sallam Adalah Penutup Para
Nabi ‘Alaihimus Sallam

Setiap orang yang mendakwahkan
adanya kenabian sesudah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka
yang demikian itu adalah sesat dan kufur. Allah Azza wa Jalla
berfirman.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari
seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan
penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

[Al-Ahzaab: 40]

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menyebutkan
akan adanya dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi, kemudian
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“…Dan
sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga
puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah
penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku
.”[4]

Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

“Aku memiliki lima
nama: aku Muhammad (yang terpuji), aku adalah Ahmad (yang banyak
memuji), aku adalah al-Maahi (penghapus) dimana melalui
perantaraan-ku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Haasyir
(pengumpul) yang mana manusia akan dikumpulkan di hadapanku. Aku juga
mempunyai nama al-‘Aaqib (belakangan/penutup) -tidak ada lagi
Nabi yang datang sesudahku
-.”[5]

[3]. Ahlus
Sunnah Berkeyakinan Bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Tidak Mengetahui Masalah Yang Ghaib Semasa Hidupnya Kecuali Yang
Diajarkan Oleh Allah Azza wa Jalla, Apalagi Setelah Beliau Shalallahu
Alaihi Wa Sallam Wafat.

Allah Azza wa Jalla
berfirman.

“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu
bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa
aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah
diwahyukan kepadaku.’…” [Al-An’aam: 50][6]

Kalau
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui masalah
yang ghaib, maka apalagi orang lain. Karena yang mengetahui masalah
yang ghaib hanya Allah Azza wa Jalla semata.

Firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

“Katakanlah: ‘Tidaklah ada seorang
pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali
Allah.’ Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan
dibangkitkan.” [An-Naml: 65]

[4]. Wajibnya
Mencintai Dan Mengagungkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam
Serta Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan)

Ahlus Sunnah
wal Jama’ah sepakat tentang wajibnya mencintai dan mengagungkan
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kecintaan dan
pengagungan terhadap seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Akan tetapi dalam mencintai dan mengagungkan beliau Shalallahu
‘alaihi wa salam tidak boleh melebihi apa yang telah ditentukan
syari’at, karena bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam seluruh
perkara agama akan menyebabkan kebinasaan.

Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Tidaklah beriman
seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya melebihi
kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh
manusia.”[7]

Pertama-tama, wajib bagi setiap hamba mencintai
Allah dan ini merupakan bentuk ibadah yang paling agung. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang
beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
[Al-Baqarah:165]

Ahlus Sunnah mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam dan mengagungkannya sebagaimana para Sahabat
Radhiyallahu ‘anhum mencintai beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam
lebih dari kecintaan mereka kepada diri dan anak-anak mereka,
sebagaimana yang terdapat dalam kisah ‘Umar bin al-Khaththab
Radhiyallahu ‘anhu, yaitu sebuah hadits dari Sahabat ‘Abdullah
bin Hisyam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami mengiringi Nabi
Shalallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar
bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ‘Umar berkata
kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah,
sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: ‘Tidak, demi yang
jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi
dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata kepada beliau: ‘Sungguh sekaranglah
saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’
Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sekarang
(engkau benar), wahai ‘Umar.’”[8]

Berdasarkan hadits di
atas, maka mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah
wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu
selain kecintaan kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam adalah mengikuti sekaligus ke-harusan dalam
mencintai Allah. Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah cinta karena Allah. Ia bertambah dengan bertambah-nya
kecintaan kepada Allah dalam hati seorang mukmin, dan berkurang
dengan berkurangnya kecintaan kepada Allah.

Orang yang beriman
akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan Rasul-Nya yang
paling ia cintai.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada
pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1)
hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.
(2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena
Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam
api.”[9]

Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
mengharuskan adanya peng-hormatan, ketundukan dan keteladanan kepada
beliau serta mendahulukan sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam
atas segala ucapan makhluk, serta mengagungkan
Sunnah-Sunnahnya.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata: “Setiap kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya
dibolehkan dalam rangka mengikuti kecintaan dan pengagungan kepada
Allah. Seperti mencintai dan mengagungkan Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ia adalah penyempurna kecintaan dan
penga-gungan kepada Rabb yang mengutusnya. Ummatnya men-cintai beliau
Shalallahu ‘alaihi wa salam karena Allah telah memuliakannya. Maka
kecintaan ini adalah karena Allah sebagai konsekuensi dalam mencintai
Allah.”[10]

Maksudnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
meletakkan kewibawaan dan kecintaan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi
wa salam, karena itu tidak ada seorang manusia pun yang lebih
dicintai dan disegani dalam hati para Sahabat kecuali Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa salam[11]

[Disalin dari buku Prinsip
Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264
Bogor 16001, Cetakan ke 2]
_________
Foote Note
[1].
Pembahasan ini diringkas dari kitab al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis
Salaafish Shaalih Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 84-87) dan
‘Aqiidatut Tauhiid dengan beberapa tambahan dari kitab-kitab
lain.
[2]. Lihat juga QS. Al-Anbiyaa’: 107 dan al-Ahqaaf:
29-31.
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 335) dan Muslim (no. 521), dari
Sahabat Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, lafazh
ini milik al-Bukhari.
[4]. HR. öAhmad (V/278), Abu Dawud (no.
4252), Ibnu Majah (no. 3952), dengan sanad yang shahih menurut syarat
Muslim, dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu ‘anhu. Ketahuilah bahwa di
antara dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai Nabi adalah Mirza
Ghulam Ahmad al-Qadiyani al-Hindi, yang muncul ketika kolonial
Inggris menjajah India. Pada awalnya ia mengaku sebagai al-Mahdi
al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), kemudian mengaku sebagai
Nabi ‘Isa Alaihis Sallam, dan terakhir ia mengaku sebagai Nabi dan
mendirikan aliran Ahmadiyah… Mereka (kaum Ahmadiyah) mempunyai
keyakinan-keyakinan bathil yang banyak sekali dan menyalahi keyakinan
ummat Islam. Mereka menafikan tentang dibangkitkannya jasad manusia
dari kubur (nanti pada hari Kiamat), mereka meyakini bahwa nikmat dan
siksa hanya dialami oleh ruh saja, mereka beranggapan bahwa siksaan
terhadap orang kafir terbatas, mengingkari adanya jin dan lain
sebagainya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (IV/252) oleh
Syaikh al-Albani.
Pendapat para ulama bahwa Mirza Ghulam Ahmad
(1839-1908 M) adalah kafir, juga aliran Ahmadiyah pun kafir, mereka
disebut sebagai MINORITAS NON MUSLIM!!!
Di antara
keyakinan-keyakinan sesat Ahmadiyah adalah:
[a]. Meyakini bahwa
Allah puasa, tidur, menulis, dapat bersalah dan lainnya. Mereka
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Ta’aalal-laahu ‘amma
yaquuluuna ‘uluwwan kabiiran.
[b]. Meyakini bahwa Nabi Muhammad
bukanlah Nabi terakhir, dan mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad
adalah Nabi terakhir dan paling utama.
[c]. Mereka memiliki kitab
suci tersendiri yang berbeda dengan Al-Qur-an ummat Islam, mereka
menamakannya Kitaabul Mubiin.
[d]. Menurut mereka, tidak ada jihad
dalam Islam, dan telah dihapus.
[e]. Setiap Muslim adalah kafir
-menurut mereka- sampai masuk aliran Ahmadiyah al-Qadiyani.
[f ].
Mereka menghalalkan khamr, narkoba, barang yang memabukkan, dan
lainnya.
Ahmadiyah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
Yahudi, Nashrani, dan aliran kebathinan. (Lihat al-Mausuu’ah
al-Muyassarah fil Adyaan wal Madzaahib wal Ahzaabil Mu’ashshirah
I/419-423, cet. WAMY, th. 1418 H.)
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 3532),
Muslim (no. 2354) dan at-Tirmidzi (no. 2840), dari Sahabat Jubair bin
Muth’im Radhiyallahu ‘anhu. Penjelasan dalam tanda kurung adalah
penjelasan dari Imam az-Zuhri yang terdapat dalam riwayat Muslim dan
at-Tirmidzi. Lihat Fat-hul Baari (VI/557) cet. Darul Fikr.
[6].
Lihat juga QS. Al-A’raaf: 188 dan Jin: 26-27.
[7]. HR.
Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275) dan an-Nasa-i
(VIII/114-115), dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[8].
HR. Al-Bukhari (no. 6632), dari Sahabat ‘Abdullah bin Hisyam
z.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 16), Muslim (no. 43 (67)), at-Tirmidzi
(no. 2624), an-Nasa-i (VIII/96) dan Ibnu Majah (no. 4033), dari
hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[10]. Jalaa’ul Afhaam
fii Fadhlish Shalaati was Salaam ‘alaa Muhammad Khairil Anaam (hal.
297-298), tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.
[11]. Aqiidatut
Tauhiid (hal. 150), oleh Dr. Shalih al-Fauzan

Sumber
:
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1950&bagian=0

Leave a Reply