Archive for December, 2007

Pemuja cinta vs Pencela cinta

Wednesday, December 19th, 2007

Pemuja cinta berkata:

Siapa yang tidak mau
mencicipi manisnya cinta , tidak akan bisa menikmati kehidupan ini.
Kesempurnaan kenikmatan mengekor kepada kesempurnaan cinta. Orang
yang paling bisa  menikmati sesuatu ialah yang paling mencintai
sesuatu itu. Allah membuat para nabi dan rasul-Nya mencintai istri
dan kekasihnya.

Menurut golongan ini,
cinta itu bisa mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong
untuk berpakaian rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang
mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan
pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta itu
merupakan ujian bagi orang yang shalih. Cinta merupakan timbangan
akal dan rasa. Cinta merupakan ciptaan yang mulia, sebagaimana yang
dikatakan dalam syair,

Bukan karena dorongan
nafsu kubangkitkan cinta
Tapi kulihat cintu itu
adalah akhlak yang mulia

Menurut mereka, ruh-ruh
orang yang dimabuk cinta adalah titik-titik embun yang lembut. Tubuh
mereka ringan dan lemas. Pasangan mereka menjadi lamban untuk
diarahkan. Bisa tenang jika sudah bersanding dan mengikatkan tali
cinta. Ucapan mereka tertanam dipikiran, menggerakkan jiwa,
mengguncang ruh dan tidak sedikit para cerdik pandai yang
membicarakan keadaan mereka.

Sebagian orang berkata
“cinta bagi ruh sama dengan kedudukan makanan bagi badan. Jika
engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu, dan jika
engkau terlalu banyak menyantapnya tentu ia akan membinasakanmu”.

Sebagian yang lain
mengatakan “ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir
menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah
yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, merendahkan
kehormatan para raja, menampakkan kehebatan para pemberani, merupakan
pintu pertama yang membelah pikiran dan kecerdikan, karenanya ada
tipu daya yang halus, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadiaan
menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari didalam jiwa dan
kesenangan yang bersemayam didalam hati”.

Al-abbas bin Al-ahnaf
berkata dalam syairnya,

Tiada manusia yang tiada
memiliki cinta
Tiada kebaikan bagi
orang yang tiada cinta

Yang lain berkata,

Tiada keindahan dan
kenikmatan didunia
Jika engkau menyendiri
tanpa perasaan cinta.

Ali bin abdah berkata
“tak mungkin seseorang bisa menghindari cinta, kecuali orang yang
kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah”

Pencela cinta berkata:

Allah berfirman:

Ya Rabb kami,
janganlahEngkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb
kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb
kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri maafkan kami”. (al-baqarah: 286)

Beban dalam ayat diatas
ditafsiri dengan cinta. Yang dimaksud bukan pengkhususannya, tetapi
maksudnya adalah cinta yang tidak sanggup dipikul oleh manusia.
Menurut makhul, artinya dorongan birahi yang kuat.

Sabda rasulullah saw,

Tidak selayaknya
seseorang merendahkan dirinya sendiri”
(HR. ahmad)

Menurut imam Ahmad,
penafsirannya: tidak selayaknya seseorang menantang cobaan yang tidak
sanggup dia pikul. Hal ini sama dengan keadaan orang yang jatuh
cinta. Sebab dengan begitu dialah orang yang paling rendah dihadapan
orang yang dicintai, agar memperoleh ridhonya, karena  dasar cinta
adalah merendahkan diri dan tunduk kepada kekasih, sebagaiman
dikatakan seorang penyair,

Dulu kami melihatmu
terhormat dan mulia
Tiada heran jika menjadi
hina karena orang yang dicintai
Usah pungkiri kehinaan
mereka yang jatuh cinta
Rela merunduk karena
mengharap ridho kekasih tercinta

Yang lain berkata,

Permulaan cinta indah
menawan hati
Akhirnya kematian
laksana permainan
Ia bermula dari
pandangan dan canda
Menyala dihati laksana
bara api
Seperti api yang bermula
dari percikan
Jika membesar ia akan
membakar semua kayu

Penyair lain berkata,

Mataku mengalirkan
airmata darah
Setelah air mata itu
habis tercurah
Duka nestapa ada dibadan
yang kurus kering
Sebagian malam yang sepi
datang mengiring
Aku lalai beberapa waktu
telah lama berlalu
Waktu berganti dan
ingatan tetap menyatu

Sebagian yang lain
berkata,

Karena cinta dia menjadi
hamba
Padahal sebelumnya dia
adalah raja
Kegarangan istana tiada
lagi menyertai
Dia dipuncak gunung
menyendiri sendiri
Pipi tertempel ditanah
berdebu
Seakan bantal-bantal
sutra untuk bertumpu
Begitulah kehinaan
menimpa orang yang merdeka
Jika cinta menimpa dia
laksana hamba sahaya

Menurut golongan ini
berapa banyak cobaan cinta yang membenamkan kepala kedalam siksa
neraka, menuntun mereka kepada derita yang pedih dan kegelas mereka
dituangkan api yang mendidih? Berapa banyak cobaan cinta yang
mengeluarkan manusia dari medan ilmu dan agamanya, seperti keluarnya
selembar rambut dari tepung? Berapa banyak cobaan cinta yang
menghilangkan nikmat dan mendatangkan derita? Berapa banyak orang
yang turun dari tahta kehormatan hingga menjadi orang yang hina
karena cinta, dan berapa banyak orang yang tadinya berkedudukan
tinggi namun kemudian hanya memilki kedudukan yang rendah? Berapa
banyak aurat yang terbuka, derita yang muncul kemudian hari,
kegelisahan yang mendera pada akhirnya hanya ada penyesalan?

Keputusan Hukum Tentang
Dua Golongan Dan Menuntaskan Perbedaan Diantara Keduanya.

Dapat dikatakan, cinta
itu tidak bisa dipuja secara mutlak dan tidak bisa dicela secara
mutlak pula. Cinta dapat dipuja dan dicela menurut pertimbangan
kaitannya. Sebab kehendak tergantung kepada yang dikehendaki, cinta
tergantung kepada apa yang dicintai
. Selagi apa yang dicintai
termasuk sesuatu yang memang layak dicintai, atau sebagai sarana
untuk menghantarkan kepada apa yang layak dicintai, maka cintanya
yang berlebih-lebihan tidak akan dicela dan bahkan dipuji. Kebaikan
keadaan orang yang mencintai juga tergantung kepada kekuatan
cintanya.

Maka dari itu kebaikan
hamba yang paling besar ialah jika dia mengalihkan semua kekuatan
cintanya kepada Allah semata, sehingga dia mencintai Allah segenap
hati, ruh dan raganya. Dia menunggalkan kekasihnya dan menunggalkan
cintanya. Menunggalkan kekasih artinya tidak membilang-bilang apa
yang dicintainya. Dan menunggalkan cinta artinya tidak menyisakan
cinta didalam hati sehingga dia berani berkorban demi cintanya. Cinta
seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak
kenikmatan dan kesenangan hatinya. Hatinya tidak merasakan memiliki
kenikmatan kecuali menjadikan Allah dan Rasul-Nya yang paling dia
cintai dari pada yang lain. Cintanya kepada selain Allah mengikuti
cintanya kepada Allah. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah,
sebagaimana dalam sebuah hadist,

“Tiga perkara, siapa
yang tiga perkara itu ada padanya, maka dia mendapatkan manisnya
iman, yaitu: siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada
selain keduanya. Siapa yang mencintai seseorang, dia tidak
mencintainya melainkan karena Allah. Siapa yang enggan kembali kepada
kekufuran itu, sebagaimana dia enggan untuk dilemparkan kedalam
neraka.” (HR. bukhari, muslim, at-tirmidzy, dan an-nasa’y)

                 Ibnu Qayyim Al-jauziyah: Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu