penyakit malas

March 2nd, 2007 by deeszt

"seperti padi makin tua makin merunduk". tapi sayangnya….peribahasa ini tidak diartikan seperti biasanya. Semakin tua/semakin menjelang semester akhir, diri ini benar-benar semakin merunduk, semakin malas untuk berdiri tegak, semakin malas untuk menatap masa depan, rasanya tidak ada percepatan yang dilakukan. g tau pa sebabnya, apakah hanya perasaan atau memang suatu kenyataan?. Tapi….aq trus berusaha dan berdoa kepada Allah seperti doa yang diajarkan Rasulullah “Ya Allah, aq berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, serta doa yang tidak dikabulkan” Amin………..

Semiotika Berita

February 6th, 2007 by deeszt

Selasa 6feb07, 06:35wib

“Adam Air ditemukan”, ya….ini mungkin yang kita baca atau kita lihat disebagian siaran berita televisi nasional beberapa waktu yang lalu. Tapi…ternyata apakah benar berita itu?wah…ternyata jauh dari dugaan yang ditemukan bukan pesawat adam air tetapi “serpihan pesawat adam air”, itupun hanya sebagian kecil atau mungkin tidak lebih dari lima persen dari keseluruhan badan pesawat. Berita ini sempat membuat keluarga korban menjadi sedikit senang, namun setelah kenyataan terungkap keluarga korban bersedih kembali. Dan…siapa yang disalahkan dalam hal ini?ya…lagi2x pemerintah! Padahal siapa yang menyebarkan berita “adam air ditemukan”, jawabannya tidak lain adalah media massa. Atau mungkin kasus lain, kita masih ingat ketika beberapa bulan yang lalu jogja dilanda gempa. Hampir seluruh televisi nasional menyiarkan tentang “jogja berduka”. Yang ditayangkan adalah bangunan-bangunan yang hancur, korban-korban yang terluka, juga dengan seluruh kesedihan-kesedihan rakyat jogja. Tentu tayangan ini sontak membuat para orangtua yang anak-anaknya kuliah dijogja menjadi sangat panik. Media massa tidak menayangkan sisi lain dari jogja, dimana masih banyak gedung-gedung berdiri, masyarakat yang selamat, serta kehidupan yang normal seperti biasa. Disini kita lihat betapa dahsyatnya peranan media massa dalam mempengaruhi pola pikir masyarakat. Media massa sering kali membuat berita yang biasa menjadi sangat luar biasa, dan inilah yang disebut oleh sebagian orang dengan semiotika berita (seni dalam menyampaikan berita). Hal ini tentu boleh-boleh saja kalau sesuai dengan kapasitas berita yang akan disampaikan. Tapi….kenyataannya media massa sering kali mendramatisir, baik mengurangi ataupun menambahi berita yang akan disampaikan. Tentu…kita selaku “customer” berita harus ekstra hati-hati memfilter berita yang disampaikan oleh media massa, supaya kita tidak terjebak oleh berita yang tidak sesuai kenyataannya.

Someone’s Watching Over Me

January 21st, 2007 by deeszt

Ku tersadar hari ini…
Aku tersadar dan berlari menjauh…
Tetapi ada sesuatu yang menarikku kembali…
Suara yang mengatakan alasan yang kulupakan….
Yang kutahu adalah bahwa kau tak disini untuk berkata…
Apa yang biasanya selalu kau katakan….
Tetapi semua itu tertulis dilangit malam ini…

Maka aku tak akan menyerah….
Aku tak akan patah semangat….
hidup berubah lebih cepat dari yang kita perkirakan….
Dan aku akan menjadi lebih kuat….
Sekalipun semuanya tak sesuai rencana….
Saat aku berdiri dalam kegelapan,
Aku akan senantiasa percaya…
Ada yang menjagaku…..

Sepertinya aku melihat seberkas cahaya….
Dan cahaya itu menyinari jalan hidupku…
Selalu setia menyinari hidupku…
Kini aku tak akan takut lagi….
Untuk mengikuti kemanapun cahaya itu membawa pergi….
Aku yakin masa lalu telah berlalu……
Dan masa kini adalah milikku….
Untuk mewujudkan semua impianku….

Tak jadi soal apapun kata orang….
Tak jadi soal betapapun lamanya….
Percayalah pada dirimu sendiri, dan kau akan terbang tinggi….
Yang terpenting adalah ketulusan hatimu….
Jujurlah pada dirimu sendiri, dan ikutilah kata hatimu….
 
Hillary Duff

Laron.

January 7th, 2007 by deeszt

Bismillahhirrahmanirrahim.
Ada pemandangan menarik yang dapat disimak dari serangga yang bernama laron. Sebuah perilaku aneh terjadi ketika laron menemukan cahaya. Secara masal ribuan laron berbondong-bondong terbang menuju lampu panas. Mereka merebut menabraknya, dan dak….laron-laron itupun mati bergiliran, sulit mencari penjelasan kenapa laron senekad itu. Dan itu terus berulang dari generasi ke generasi, tanpa sediktipun mengambil pengalaman dari generasi sebelumnya. Padahal naluri mahluk hidup selalu menginginkan kehidupan bertahan selamanya. “apa laron tidak suka kehidupan?” mustahil….justru pelajaran laron bisa berharga buat manusia. Sepertinya Allahua’lam. Allah mengajak manusia untuk berfikir lewat perilaku laron. Jangan seperti laron karena itu bisa membahayakan. Serangkaian perilaku itu antara lain, laron salah menafsirkan dari dunia gelap kedunia terang, suasana gelap dari rongga-rongga kayu yang selama ini mengungkung, menimbulkan uforia dahsyat tentang terang. Terang menjadi sangat-sangat menarik, tanpa mengkaji sedikitpun tentang terang. Mereka terus berkerumun ditengah terang yang kebetulan mereka temukan. Yang dengan terang itu kemudian mereka mati. Sepertinya, laron juga kurang kritis tentang nilai mayoritas. Kalau banyak yang menuju huruf A, maka A menjadi benar, dan menjadi pilihan terbaik. Padahal tidak semua kebanyakan itu benar dan sebaliknya tidak semua yang sedikit itu salah. Nilai benar dan salah, baik dan buruk, tidak berbanding lurus dengan banyak dan sedikitnya. Dan terakhir, laron kurang membuka mata kalau aktifitas hidup tidak terkungkung pada dua garis besar gelap dan terang, hitam dan putih, karena Allah melengkapi hidup ini dengan keindahan seribu satu warna. Tapi, jadikan putih tetap sebagai dasar semua warna. Dan memang kenyataannya jika semua warna itu jika bergabung akan menghasilkan putih.

Anak elang.

January 7th, 2007 by deeszt

Tersebutlah kisah seekor anak elang yang belum bisa terbang. Ia hanya bisa menatap kehidupan bawah dari atas tempat ia tinggal. Satu hal yang membingungkan sianak elang semua gerakan itu tampak begitu lambat, bagaikan kombinasi titik yang bergerak lambat. “Kenapa sih…mereka tampak begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan. Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan dibawah bukit itu dengan mudah. “tentu saja kena, mereka begitu lamban” gerutunya penuh yakin. “kamu tidak turun memangsa nak” kata salah satu elang dewasa didekatnya. “aku belum mahir terbang” jawab sianak elang seperti tak peduli. Ia masih disibukkan dengan berbagai keheranan, “mengapa hewan-hewan dibawah tampak begitu lambat ya?” tanyanya dalam hati. Disuatu hari yang cerah sianak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai meluncurkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari disekitar sarang. “aku yakin bisa” ucapnya sambil menatap kebawah bongkahan batu-batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus menambah tantangan tersendiri buat sianak elang, dan ia pun mulai terbang. Diluar dugaan, tiupan angin besar tiba-tiba bertiup dari arah belakang. Karena belum pengalaman sianak elangpun terpelanting, ia menabrak salah satu dahan pinus. Bruuuk….tubuh sianak elangpun terperosok di semak-belukar. Salah satu sayapnya terluka. Baru kali itu sianak elang menginjakan kakinya didataran rendah, dan baru kali itu pula ia menyaksikan sendiri seperti apa gerakan hewan-hewan bawah dari arah dekat. “akh…selama ini aku salah, ternyata hewan-hewan itu bergerak begitu cepat. Cepat sekali” ucapnya penuh kekaguman. Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan, antara dunia atas dengan dunia bawah. Antara mereka yang biasa menatap gerak kehidupan dari tempat tinggi dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Dua-duanya memilki kesimpulan yang sama yaitu “gerakan mereka begitu lambat”. Persoalannya mungkin sederhana, yaitu keasyikan berada di tempat-tempat tertentu atas atau bawah, menjadikan pandangan begitu terbatas. Jarak jika terus dalam jauh dan keasyikan jika terus dalam dunianya sendiri akan menyimpulkan kesimpulan yang seperti kesenjangan ini. Semoga kita tidak seperti yang dialami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas.

Bendera.

January 7th, 2007 by deeszt

Jum’at, 5 jan 2007, 11:00 Wib.

Disebuah desa tampak murid-murid madrasah sedang berbaris membentuk regu-regu barisan. Tiap regu memegang satu bendera yang terikat pada batang bambu berukuran satu meter. Rupanya mereka sedang mengikuti lomba gerak jalan keliling desa. Sebelum berangkat, seorang guru memberikan arahan, “anak-anakku perhatikanlah bendera kalian, jadikanlah ia sebagai dirimu sendiri” ujar sang guru singkat. Dan berangkatlah anak-anak itu, mereka bergerak begitu rapi serta tetap mengikuti arah bendera dibarisan depan. Jarak tempuh itu tergolong jauh untuk ukuran anak kota. Mereka melewati kampung-kampung, jalan raya antarkota dan berputar balik menuju tempat semula. Setelah dua jam berjalan barisan tidak lagi seperti ketika berangkat, ada yang akhirnya berbentuk segitiga, lingkaran, bahkan tidak berbentuk yang jelas alias kocar-kacir. Hanya satu yang tetap seperti semula yaitu bendera. Mungkin sebagian anak-anak menganggap kalau nasihat sang guru sebagai kata kunci “yang penting bendera”. Setelah semua regu tiba digaris finish, pemenang lombapun diumumkan,”pemenangnya regu padi” ucap sang guru disambut tepuk tangan. Beberapa murid mengangkat tangan “maaf pak, barisan regu padi memang rapi, tapi mereka beberapa kali tidak mengangkat bendera. Sementara kami terus mengangkat bendera. Bukankah bapak mengatakan yang penting bendera?” suara protes dari seorang murid. “Anakku….” ujar sang guru begitu wibawa, “kamu salah paham soal bendera, bendera bukan sekedar selembar kain yang terikat ditiang bambu. Bendera itu adalah citra, kamu sekalian adalah bendera yang berjalan” jelas sang guru begitu gamblang. Semua murid-muridpun terdiam. Ketika seseorang terikat dengan sesuatu diluar dirinya, bisa jadi agama, organisasi, korp, bisa jadi bendera bagi ikatannya. Baik buruk bendera sangat menentukan citra yang ia bawa. Seperti itulah musuh-musuh islam untuk menjelekkan islam yang sebenarnya bersih dan indah. Cukup dengan menyorot keterbelakangan umat islam, konflik yang tidak pernah habis, dan terakhir teroris. Islam yang indahpun tercitrakan buruk, islam menjadi ter-bendera-kan umatnya. Kita adalah bendera yang berjalan, yang semakin tinggi tiang bendera kian banyak yang mencitrakan kita. Jadi…bukan agama, organisasi, atau korp-nya yang buruk. Bendera-bendera itulah yang sangat mencitrakan, apakah sesuatu yang mengikatnya itu menjadi baik atau sebaliknya?.

Apakah Allah ada?

January 2nd, 2007 by deeszt

Jawabnya: ADA, apa dalilnya?
Dalilnya;
1. dalil aqli(akal).
Dalil aqli dapat kita katakan sebagai berikut:
“Coba kita lihat alam semesta ini, yang ada dihadapan kita, yang kita saksikan. Dengan system yang sangat rapi dan teratur tidak akan mungkin bertabrakan dan saling berbenturan, tidak akan jatuh dan tidak akan lepas. System yang sangat rapi dan teratur, matahari tidak akan dapat bertemu dan bertubrukan dengan bulan, malam tidak akan mendahului siang. Mungkinkah alam yang sangat rapi sistemnya ini ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya, mengaturnya dan menjalankannya?” Ini secara akal tidak mungkin. Ada suatu kisah yang menarik, yang diriwayatkan oleh imam Abu Hanifah, Beliau adalah orang yang sangat terkenal pintar, tajam otaknya. Datanglah orang-orang sekuler padanya. Orang-orang sekuler ini berkata kepadanya, “coba buktikan bagi kami bahwa Allah itu ada?”, sang imam menjawab ”beri aku waktu untuk berfikir!!” tidak berapa lama kemudian sang imam berkata kepada mereka “aku sedang memikirkan sebuah kapal yang besar berlabuh dipelabuhan dujla. Kapal itu membawa barang bawaan yang sangat banyak. Lalu barang-barang bawaan itu turun tanpa ada yang menurunkannya, lalu kapal itu berangkat pergi tanpa ada yang menakhodainya” orang-orang sekuler bertanya “bagaimana mungkin hal itu terjadi? Itu tidak dapat dibenarkan oleh akal kami” maka sang imam mengatakan kepada mereka “jika kalian tidak bisa membenarkan hal itu, maka bagaimana kalian dapat membenarkan matahari, bulan, bintang, langit, bumi yang berjalan demikian teratur seperti ini, bukankah ini menunjukan bahwa ada yang mengaturnya? Ada yang menjalankannya? Dan ada yang menciptakannya?” maka yakinlah orang-orang sekuler tadi bahwa alam ini ada yang menciptakannya. Allah telah mengisyaratkan dalil aqli ini dalam firman-Nya pada surat thuur ayat 35, yang artinya “apakah mereka diciptakan tanpa ada yang menciptakannya?” atau mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”.

2. dalil hissi.
Contohnya adalah doa kita yang dikabulkan ketika kita berdoa. Ketika kita berdoa “ya Allah” lalu Allah mengabulkan doanya, menyingkirkan musibah yang menimpanya, memberikan permintaan yang dimohonkannya. Ini menunjukan bahwa Allah itu ada, mendengarkan doanya dan mengabulkannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 76 yang artinya “dan nuh, ketika dia berdoa sebelumnya dan Kami mengabulkan doanya”. Ketika kita berdoa kepada Allah kita yakin secara hissi bahwa doa kita akan ada yang mengabulkannya. Seandainya pencipta tidak ada maka tidak akan ada orang yang memohon dan berdoa kepada pencipta. Ia yakin ketika berdoa ada dzat yang kuasa untuk mengabulkan doanya.

3. dalil fitri (fitrah).
Secara fitrah manusia itu apabila tertimpa musibah, kesempitan, mudharat maka secara otomatis lisannya berucap “Ya Allah” atau sering kita dengar “Oh.. my God”. Jadi secara otomatis/fitrah dia akan mengatakan hal itu. Meskipun terkadang sebenarnya dia tidak meyakini adanya Tuhan. Allah telah mengisyaratkan hal ini didalam Al-Qur’an surat Al-Ankabuut ayat61, yang artinya “Bila kamu tanyakan kepada mereka ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi, yang menundukan matahari dan bulan?’ mereka mesti mmenjawab ‘Allah’, mengapa pula mereka berpaling dari-Nya?.”

4. dalil syar’i
dalil syar’I sangat banyak sekali didalam Al-Qur’an, misalnya firman Allah dalamsurat Al-Fatihah yang artinya “segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam” juga masih banyak dalam surat-surat yang lainnya. Juga dalam surat Ghaafir ayat 67, Allah berfirman yang artinya ”Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air mani, lalu dari segumpal darah, akhirnya Tuhan melahirkan kamu sebagai bayi, Ia biarkan kamu tumbuh mencapai usia dewasa, lalu menjadi tua. Ada diantaramu yang mati sebelum itu agar kamu sampai waktu yang ditentukan, dan hendaknya kamu dapat berpikir”.

Serigala Dan Harimau.

December 31st, 2006 by deeszt

Kisah ini menceritakan tentang seekor serigala yang terluka. Luka yang diderita serigala terjadi ketika serigala berusaha menolong harimau yang dikejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya, namun sayang sebuah panah yang terbidik mengenai kaki belakangnya. Kini hewan yang bermata liar itu tidak bisa lagi berburu. Ia tinggal disebuah goa jauh dari perkampungan penduduk. Sang harimaupun tahu bagaimana balas budi. Setiap selesai berburu, dimulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang, walau sedikit. Sang serigala selalu dapat bagian, sang harimau paham, tanpa bantuan sang serigala ia pasti sudah mati terpanah. Sebagai balasannya serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lain, walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok dipojok goa. Rupanya peristiwa itu telah sampai ketelinga seorang pertapa. Ia dan beberapa muridnya ingin melihat dan mengambil beberapa pelajaran. Dipagi hari berangkatlah mereka, setelah seharian berjalan sampailah mereka dimulut goa, tempat harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan harimau baru saja pulang dari berburu dan sedang memberikan sepotong daging kepada serigala. “Pelajaran apa yang dapat kalian ambil dari sana?” Tanya pertapa ke murid-muridnya. Seorang murid menjawab “guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan hamba-Nya lewat berbagai cara.” Sang pertapa tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “lihatlah serigala ini, tanpa bersusah payah dia bisa tetap hidup dan mendapat makanan”. Ia menanti jawaban dari gurunya, “ia, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan. Tapi….berhentilah berharap menjadi serigala dan mulailah berlaku seperti harimau” tanggapam sang guru. Adalah benar bahwa Tuhan menciptakan ikan buat umat manusia. Tapi…apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan dalam kaleng-kaleng sarden? Saya percaya ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat kerja keras dan peluh dari para nelayan. Begitulah…acap kali dalam kehidupan ada fragben tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tidak salah jika disana kita akan menyaksikan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Namun,.. ada satu hal kecil yang patut diingat bahwa, berbagi, menolong, membantu, sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita, bukan karena hal itu suatu keterpaksaan, bukan juga karena didorong rasa kasihan dan ingin balas budi. Berbagi dan menolong memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan, sebab disana akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Didalam berbagi akan bersemayam keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan qalbu. Sahabat….jika kita bisa memilih berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh dan mulailah bermimpi menjadi harimau.

Sudah sahkah syahadat kita??

December 31st, 2006 by deeszt

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, telah kita ketahui bersama bahwa agama islam ini memiliki rukun-rukun, yang dikenal dengan istilah rukun islam. Yaitu syhadatain, sholat, zakat, puasa dibulan ramadhan dan haji ke baitullah. Dan tentu saja kelima rukun islam ini sendiripun memilki rukun dan syarat. Sebagai contoh, salah satu rukun sholat adalah takbiratul ihram. Dan salah satu syarat sholat adalah berwudhu. Kemudian mari kita perhatikan, bagaimanakah status orang yang tidak berwudhu atau tidak ber-takbiratul ihram? Tentu saja tanpa ragu lagi kita akan dengan mudah menjawab bahwa sholatnya tidak sah, atau sholatnya batal.
Oleh karena itu, mengapa kita tidak pernah berfikir bahwa syahadat Laa Ilaaha Illallah pun memilki rukun dan syarat? Lalu bagaimanakah kira-kira hukum syahadat yang tidak terpenuhi rukun dan syaratnya? Tentu saja, sama seperti kasus sholat tadi, maka syahadatnya batal dan tidak sah. Bahkan hal ini lebih fatal lagi, karena batal dan tidak sahnya syahadat ini akan berakibat orang tersebut telah keluar dari islam, meskipun ia merasa bahwa dirinya masih beragama islam. Oleh karena itu, sangat penting untuk kita ketahui apa sajakah rukun dan syarat dari syahadat Laa Ilaaha Illallah.

Orang kafir Quraisy saja mengetahui!!!
Perlu pembaca ketahui, orang-orang kafir pada zaman Rasulullah dahulu mengetahui bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid harus memenuhi syarat-syaratnya sebelum mengucapkannya. Karena mereka merupakan orang yang ahli dibidang bahasa dan cukup menguasai bahasa arab yang sebenarnya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah berkata kepada mereka,”katakanlah,’tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah’, niscaya kalian akan beruntung”(HR. Ahmad, shahih). Juga dalam firman Allah “Bila kamu tanyakan pada mereka ‘siapa yang menciptakan langit dan bumi, yang menundukan matahari dan bulan?’ mereka pasti menjawab ‘Allah’. Mengapa pula mereka berpaling dari-Nya?” (Al’ankabuut : 61). Maka merekapun mengatakan,
“mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini benar-benar mengherankan”.(QS. Shood:5).
Mereka enggan untuk mengucapkannya karena mereka sangat paham dengan syarat dan konsekuensi dari kalimat tauhid tersebut. Bandingkanlah dengan zaman sekarang ini, ada seseorang sangat gemar berzdikir “Laa Ilaaha Illallah” namun ia tidak memahami maknanya dengan benar bahkan perbuatan dan ucapannya sendiri mendustakan ucapannya. Oleh karena itu, syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah berkata “tidak ada kebaikan pada diri seseorang muslim, dimana orang-orang kafir yang bodoh sekalipun lebih mengetahui kalimat “Laa Ilaaha Illallah” daripada dirinya” (kasyfusy syubuhat).

Syarat-Syarat Syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Syahadat Laa Ilaaha Illallah memilki syarat-syarat yang harus terpenuhi agar menjadi sah, syarat-syarat tersebut adalah:
1. Mengetahui makna dan maksudnya (Al-‘Ilmu).
Seseorang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus mengetahui makna dan maksudnya dengan benar. Barangsiapa yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah namun tidak mengerti maknanya maka syahadatnya tidak sah dan tidak berguna, dia bukanlah orang islam. Hal ini berdasarkan firman Allah yang artinya,”maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Illah(sesembahan) yang berhak diibadahi selain Allah”(QS Muhammad:19). Pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengetahuidan memahami makna dari syahadat Laa Ilaaha Illallah.

2. Meyakini kandungannya (Al-Yaqin).
Orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus meyakini dengan seyakin-yakinnya, tanpa ada keraguan sedikitpun bahwa hanya Allah-lah sesembahan satu-satunya yang benar dan sesembahan yang selainnya adalah bathil. Barang siapa yang ragu, maka ia menjadi munafik. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu”. (QS Al-Hujurat :15). Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah orang tidak mengalami keragu-raguan sedikitpun dalam keimanan atau dengan kata lain Ia meyakininya.

3. Menerima kandungan dan konsekuensinya (Al-Qobul).
Orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallah harus menerima segala kandungan dan konsekuensinya, yakni menerima bahwa hanya Allah-lah sesembahan yang benar dan selain-Nya adalah sesembahan yang bathil. Barangsiapa yang tidak menerima kandungan dan konsekuensi syahadat ini, maka ia termasuk orang-orang kafir yang difirmankan Allah yang artinya “sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka,’ Laa Ilaaha Illallah’,mereka menyombongkan diri” (QS Ash-Shoffat). Yakni mereka tidak mau menerimanya.

4. Tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya (Al-Inqiyad).
Maksudnya adalah ia beribadah kepada Allah dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”(Az-Zumar:54). Barangsiapa yang mengucapkannya namun tidak mau beribadah kepada Allah dan tidak mau tunduk kepada syariat-Nya, maka syahadatnya tidak sah. Dia sama seperti iblis dan orang-orang kafir yang tidak mau tunduk kepada Allah.

5. Jujur dalam syahadatnya (Ash-Shidq).
Yaitu dia tidak hanya mengucapkan syahadat dengan lisan tetapi juga disertai dengan pembenaran syahadat ini didalam hati, hatinya sesuai dengan lisannya. Barangsiapa yang mengucapkan syahadat dilisan saja namun hatinya mengingkari, maka ia adalah munafik dan pendusta. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya “diantara manusia ada yang mengatakan,’kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”(QS Al-Baqarah:8-10). Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa diantara manusia ada yang mengucapkan syahadat namun ucapan syahadat mereka itu hanyalah untuk menipu Allah dan orang-orang beriman, pada kenyataannya mereka adalah pendusta.

6. Ikhlas.
Yakni memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah semata, membersihkan dari segala bentuk ksyirikan baik itu syirik kecil (seperti beramal karena ingin dipuja manusia) terlebih lagi syirik besar (seperti berdoa kepada orang-orang yang sudah mati). Hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya “padahal mereka tidak disuruh kecualisupaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS Al-Bayyinah:5).

7. Mencintai makna dan konsekuensinya (Al-Mahabbah).
Maksudnya adalah mencntai Allah, mencintai kalimat syahadat ini beserta isinya, dan juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensi syahadat ini (mencintai para nabi, rasul dan orang-orang shaleh) serta mengikuti jalan hidup mereka. Jika ia mengucapkan syahadat tanpa rasa cinta ini, maka ia masih kafir. Allah berfirman yang artinya “katakanlah,’jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’”.(QS Ali Imran:31).

Rukun Syahadat Laa Ilaaha Illallah.
Sebelumnya, marilah kita ketahui terlebih dahulu apakah makna yang benar dari syahadat Laa Ilaaha Illallah adalah “tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah semata”. Syahadat Laa Ilaaha Illallah memilki 2 rukun yaitu dari kalimat “ tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi” dan kalimat “kecuali Allah semata”.
Rukun pertama (nafi) diambil dari kalimat pertama maknanya adalah kita mengingkari dan menolak segala bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah atau dengan kata lain kita mengingkari dan menolak kesyirikan. Rukun kedua (itsbat/menetapkan) diambil dari kalimat “kecuali Allah semata” maknanya adalah kita menetapkan bahwa segala bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah saja. Sebagai contoh apabila seseorang bernadzar, berdoa ataupun menyembelih atas nama walisongo, nyi roro kidul dan semacamnya lalu ada orang-orang yang menganggap bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, maka orang ini telah membatalkan kedua rukun dari syahadat ini meskipun bukan dia yang melakukan hal tersebut. Dengan kata lain di telah keluar dari islam (lebih-lebih orang yang melakukan nazdar, berdoa ataupun menyembelih atas nama selain Allah tadi).
Jika kita telah memahami hal ini, maka perlu kita ketahui bahwa kalimat “Laa Ilaaha Illallah” tidak akan pernah bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya, kecuali dengan menyatukan syarat-syarat ini secara keseluruhan, mengetahui syarat-syarat tersebut dan mengamalkan berbagai konsekuensinya, baik lahir maupun bathin. Sehingga syarat dan rukun “Laa Ilaaha Illallah” ini bukan hanya sekedar dihafal saja dan tidak melaksanakan konsukuensinya. Karena hal ini tidaklah bermanfaat baginya. Dengan kata lain syahadat tidak sah, yang berakibat tidak sah pula keislamannya. Wallahu ‘Alam.
Disalin dari bulletin jum’at At-Tauhid tgl 22 des 06.

Cinta Buta, Apakah tumbuh karena inisiatif atau ketetapan takdir?

October 3rd, 2006 by deeszt

Rabu 4 Oktober 2006, 04:37 WIB

Qois bin Al-Mulawwah berkata,

Cinta menghampiri sebelum ku mengenal arti cinta

Cinta telah membalikan hati yang hampa.

Sebagian filosof berkata, “kerinduan adalah kerasukan yang muncul didalam hati, yang terus bergerak dan tumbuh, kemudian bisa terarah dan menyatu dengan hasrat. Jika cinta buta itu semakin menguat, maka orang yang mengalaminya akan bertambah bergetar, gundah, dan ingin mendapatkan apa yang diharapkannya, sehingga seringkali menimbulkan keresahatan hati dan kekhawatiran. Sudah barang tentu aliran darah pada saat itu memusat diotak dan jantung. Jika aliran darah terlalu banyak memusat diotak, maka menimbulkan gangguan pikiran. Jika pikirannya terganggu, berarti akalnya sudah tidak terkontrol lagi. Dia bisa mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi, mengangan-angankan apa yang tidak tercapai, sehingga akhirnya menjurus kepada gila. Dalam keadaan seperti itu, boleh jadi orang yang dimabuk cinta bisa bunuh diri atau mati karena merana.

Apakah cinta buta itu timbul karena inisiatif ataukah karena ketetapan takdir? Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair,

Dia tenggelam dalam cinta yang membara

Tatkala cinta menyusut dia tak berdaya

Dia melihat gelombang besar seperti riak ombak

Tatkala menggulung diapun tenggelam

Dia berharap dosanya menyusut

Namun dia tak lagi sanggup

Hal ini seperti orang yang dimabuk karena minum khamr. Perbuatan orang mabuk itu berdasarkan inisiatif sedangkan akibat perbuatannya yang mabuk itumerupakan ketetapan atau akibat yang pasti terjadi karena minum khamr. Selagi sebabnya terjadi karena inisiatif, maka dia tidak dimaafkan karena akibat yang terjadi kemudian diluar inisiatifnya. Selagi sebabnya merupakan sesuatu yang diperingatkan, maka mabuk itu bukan termasuk sesuatu yang dimaafkan.

Tidak dapat diragukan, mengumbar pandangan dan mengulur-ulur pikiran, serupa dengan mabuk yang minum khamr. Dia dicela karena sebabnya. Oleh karena itu jika seorang jatuh cinta karena sebab yang tidak diperingatkan, maka dia tidak dicela, seperti orang yang bercinta dengan istrinya, kemudian berpisah dengan membawa sisa cintanya yang masih melekat. Keadaan ini tidak dicela.

Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa mabuk cinta itu lebih parah daripada minum khamr. Allah berfirman tentang kaum luth yang mencintai rupa,

“demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing didalam kemabukan (kesesatan).”(al-hijr:72)

Ibnu qoyyim : Taman orang2 jatuh cinta dan memendam rindu