September 15th, 2006 by deeszt
Kamis 14 september 2006, 20:35 WIB.
Tidak dapat disangsikan bahwa orang yang dicintai adalah sesuatu yang paling manis dimata orang yang mencintai dan lebih besar dari segala sesuatu. Seorang penyair berkata,
Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat
Atau mungkin akalku yang tidak lagi ditempat.
Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikata penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali. Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain, meski begitu tidak ada kendala apa-apa didalam hatinya. Karena kecocokan akhlak yang paling disukai manusia, dengan kata lain kita mengetahui bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi yang pasti “cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab”.
Ada satu hal yang menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa cinta itu bermacam-macam. Yang paling mulia adalah cinta orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Dalam surat Az-zukhruf ayat 67 Allah berfirman: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. Ada cinta yang bersemi saat sama-sama mencari lapangan kerja, karena ada kecocokan madzhab, karena ilmu yang dimiliki, cinta kekerabatan, cinta karena persahabatan, cinta karena sama-sama suka berbuat bajik kepada orang lain, cinta karena melihat kedudukan orang yang dicintai, cinta karena masing-masing mempunyai rahasia yang dipendam, karena untuk mendapatkan kenikmatan, cinta yang tidak disertai alasan yang pasti dan lain-lainnya.
Tapi sekali lagi yang jelas, “semua jenis cinta ini akan luntur jika penyebabnya luntur, menjadi mantap jika alasannya mantap, menyusut jka alasannya menyusut, membara karena saling berdekatan, mereda karena saling berjauhan, dan rasanya jauh dari gambaran cinta yang sejati didalam hati”.
Ibnu Qoyyim: Taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu
Posted in Uncategorized | No Comments »
September 15th, 2006 by deeszt
Rabu 13 september 2006, 20:05 WIB
Oleh: Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.
1.melihat kepada nikmat-nikmat yang masih dikaruniakan oleh Allah SWT.
2.meneladani dan mengingat kisah orang-orang yang tertimpa musibah.
3.mengeluh akan melipatgandakan kepedihan.
4.terluputnya pahala kesabaran lebih berat daripada musibah.
5.keluhan akan mengakibatkan musuh bergembira, kawannya berduka, Rabbnya murka, setannya tertawa, pahala sirna, dan dirinya menjadi lemah. Dan sebaliknya.
6.sikap sabar dan berharap pahala akan memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang nilainya berlipatganda dibanding dengan apa yang hilang darinya saat ditimpa musibah.
7.menghibur diri dengan mengharapkan ganti disisi Allah. Pepatah mengatakan “apapun jika kau hilangkan pasti ada penggantinya, namun tiada pengganti jika engkau kehilangan Allah”. Juga dalam sebuah syair “kesulitan datang dengan berbagai rupa, namun disisi Allah jualah jalan keluarnya”.
8.musibah yang sebenarnya adalah apa yang ditimbulkan oleh musibah itu baginya. Dalam sebuah hadist “sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia menguji mereka. Barangsiapa ridho, maka ia akan memperoleh keridhoan, dan barangsiapa murka maka ia memperoleh kemurkaan” Ahmad menambahkan “dan barangsiapa gundah maka ia akan memperoleh kegundahan”.
9.kegundahannya akan berakhir dengan kesabaran yang terpaksa.
10.obat yang paling manjur adalah menjalani apa yang dicintai Allah. Seorang yang jatuh cinta tentu akan mengikuti “sang kekasih”. Siapa yang mengaku mencintai kekasihnya, tetapi membenci apa yang dibenci kekasihnya serta mencintai apa yang dibenci olehnya, maka ia telah mempersaksikan kedustaannya kepada dirinya sendiri dan akan menjerumuskan dirinya kepada kemurkaan sang kekasih.
11.bergembira dengan pahala Allah akan terasa lebih nikmat daripada bergembira dengan apa yang hilang darinya.
12.ujian Allah kepada hamba-Nya adalah untuk menguji kesabarannya.
13.musibah akan menghancurkan penyakit sombong dan keras hati.
14.kepahitan dunia adalah kemanisan akherat. Lebih baik seseorang beralih dari kepahitan sementara kepada kemanisan abadi, daripada sebaliknya
Posted in Uncategorized | 1 Comment »